Jika sesuai ekspektasi, maka inflasi di Amerika Serikat akan semakin menjauhi level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun, 9,1%, yang dicapai pada Juni lalu.
Sementara itu dari dalam negeri, ulah hacker Bjorka yang melakukan peretasan membuat pemerintah ketar-ketir, dan bisa memberikan sentimen negatif ke pasar finansial. Pasalnya, Bjorka juga mengajak masyarakat untuk menggunakan 'Topeng Bjorka' untuk ikut dalam revolusinya.
Baca Juga:
Kinerja “Trump” Berada dalam Kelesuan di Tengah Menekan Rupiah, Dolar AS Kukuh di Atas 16.300
Momennya terjadi pasca pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertelite dan Solar yang memicu demo besar-besaran. Jika masyarakat terpancing ajakan Bjorka, maka dikhawatirkan stabilitas dalam negeri bisa terganggu.
Nama 'Bjorka' muncul terkait peretasan data dari Indonesia sejak Agustus lalu.Selain peretasan data Kominfo, Bjorka mengklaim telah mengakses dokumen rahasia milik Badan Intelijen Negara (BIN) yang dikirimkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Bjorka mengatakan, dirinya telah menjual sebanyak 105 juta data milik warga negara Indonesia (WNI) yang berasal dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Baca Juga:
Heboh Dollar AS ‘Anjlok’ Jadi Rp8.170 di Google, Ini Klarifikasi Google dan BI
Ia juga mengklaim telah mempunyai 1,3 miliar data registrasi SIM card prabayar Indonesia, yang terdiri atas NIK, nomor telepon, operator seluler, hingga tanggal registrasi.
Bjorka membocorkan data Menkominfo Johnny G Plate, dirinya mengancam membobol data MyPertamina hingga mengklaim telah membocorkan dokumen rahasia Presiden Jokowi. [qnt]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.