WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyiapkan langkah besar merombak struktur bisnisnya dengan memangkas puluhan anak usaha sebagai bagian dari transformasi perusahaan menuju model organisasi yang lebih ramping dan fokus pada bisnis inti.
Rencana tersebut disampaikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra dalam agenda media update yang digelar secara virtual di Jakarta dan dikonfirmasi Kamis (12/3/2026).
Baca Juga:
Refleksi Satu Tahun Danantara, PLN Turut Dukung Program Pendidikan bagi Generasi Masa Depan
“Dari sekitar 60 entitas anak perusahaan yang ada saat ini, intensinya adalah kami ingin mengurangi angka itu menjadi sekitar 14.”
Ia menjelaskan langkah tersebut akan dilakukan melalui berbagai aksi korporasi terhadap puluhan entitas usaha yang berada di bawah Telkom Group.
“Jadi kurang lebih ada sekitar 50-an entitas yang akan menjalani aksi korporasi.”
Baca Juga:
Telkom Hadirkan Wifi Gratis di 476 Titik Strategis Selama Musim Mudik Lebaran 2025
Menurut Arthur yang akrab disapa Lolo, proses penataan ulang tersebut telah dipetakan melalui beberapa skenario strategis.
Salah satu opsi yang akan ditempuh adalah divestasi terhadap sejumlah anak perusahaan yang dinilai tidak lagi sejalan dengan arah bisnis utama perusahaan.
Selain itu, Telkom juga berencana menutup beberapa entitas usaha yang sudah tidak aktif atau tidak lagi memiliki kegiatan operasional.
“Ini karena entitas tersebut sudah lama atau sudah tidak update, maka akan kami tutup.”
Di sisi lain, sejumlah anak perusahaan juga akan digabungkan melalui proses merger atau transfer kepemilikan untuk memperkuat fokus bisnis tertentu.
Telkom juga melakukan evaluasi terhadap kepemilikan minoritas pada beberapa perusahaan yang dinilai tidak memberikan kontribusi signifikan bagi perusahaan.
“Investasi minoritas di beberapa perusahaan ini yang mungkin nilainya tidak terlalu signifikan bagi kami.”
Langkah perampingan tersebut menjadi bagian dari agenda transformasi Telkom untuk memperkuat fokus bisnis utama sekaligus meningkatkan pengelolaan aset perusahaan.
Perusahaan juga tengah menata ulang portofolio bisnis agar mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar sekaligus memperbaiki kualitas tata kelola korporasi.
Transformasi ini merupakan bagian dari strategi jangka menengah Telkom menuju tahun 2030 yang dikenal dengan program TLKM 30.
Salah satu pilar utama transformasi tersebut adalah streamlining atau penyederhanaan struktur organisasi di lingkungan Telkom Group.
Melalui strategi ini, unit bisnis yang memiliki tumpang tindih aktivitas akan digabungkan agar struktur perusahaan menjadi lebih efisien.
Selain itu, bisnis yang tidak berkaitan langsung dengan sektor inti telekomunikasi dan digital juga akan dilepas.
Dengan demikian, Telkom dapat lebih fokus pada penguatan bisnis inti dan menghindari struktur grup yang terlalu kompleks.
Dalam kerangka transformasi tersebut, Telkom juga memperkuat posisinya sebagai strategic holding yang berperan sebagai pengendali arah strategis perusahaan.
Sementara itu, aktivitas operasional akan dijalankan oleh entitas operating company yang menjadi penggerak utama di setiap lini bisnis.
Empat pilar utama yang akan menjadi mesin pertumbuhan Telkom ke depan meliputi B2C Business, B2B IT Services, Digital Infrastructure, serta International Business.
Sejalan dengan agenda transformasi tersebut, salah satu anak perusahaan Telkom yakni PT Multimedia Nusantara atau TelkomMetra juga melakukan langkah strategis.
TelkomMetra menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) sebagai tahap menuju divestasi penuh PT Administrasi Medika atau AdMedika beserta entitas anaknya TelkoMedika kepada Fullerton Health.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi streamlining Telkom Group sekaligus untuk memperkuat fokus perusahaan pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.
Direktur Utama TelkomMetra Pramasaleh Haryo Utomo menyatakan keputusan divestasi tersebut telah melalui pertimbangan bisnis yang komprehensif.
“Ini keputusan yang dilakukan secara terukur dengan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance, melalui pertimbangan bisnis komprehensif dan sejalan dengan transformasi TelkomGroup untuk memperkuat fokus pada core business, serta penciptaan nilai jangka panjang.”
Ia menilai langkah tersebut membuka peluang bagi AdMedika Group untuk berkembang lebih luas melalui dukungan mitra strategis yang memiliki keselarasan bisnis.
Selain itu, kolaborasi dengan Fullerton Health dinilai mampu memperkuat layanan kesehatan berbasis teknologi yang selama ini dikembangkan AdMedika Group.
Pramasaleh juga menyebut kerja sama tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan bagi pasien, klien, serta mitra bisnis di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menambahkan Fullerton Health memiliki pengalaman regional yang luas serta kapabilitas operasional yang kuat di sektor layanan kesehatan dan manfaat kesehatan di Asia.
Sinergi antara kedua perusahaan diharapkan dapat menciptakan platform yang lebih kuat untuk memperluas inovasi dan memperkuat posisi AdMedika Group sebagai penyedia layanan administrasi kesehatan berbasis teknologi di Indonesia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]