WahanaNews.co, Jakarta - Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang digagas Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mencatat capaian positif pada awal 2026. Sepanjang Triwulan I-2026, total nilai transaksi program ini menembus USD 23,60 juta, dengan peningkatan signifikan terjadi pada Maret 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, capaian tersebut menunjukkan strategi pemerintah dalam mendorong pelaku UMKM menembus pasar internasional semakin efektif. Ia menekankan, peningkatan kinerja ini tidak lepas dari semakin intensifnya kegiatan penjajakan bisnis (business matching) yang mempertemukan UMKM dengan pembeli global secara lebih terarah.
Baca Juga:
HPE Konsentrat Tembaga dan Harga Emas Turun pada Paruh Kedua April 2026
“Capaian UMKM BISA Ekspor pada Triwulan I-2026 ini menunjukkan pelaku UMKM kita memiliki daya saing yang semakin kuat di pasar internasional. Kami akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi, serta memastikan UMKM mendapatkan pendampingan yang tepat agar mampu berkelanjutan di pasar ekspor,” ujar Budi.
Data Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional mencatat, capaian tersebut terdiri atas potensi transaksi melalui nota kesepahaman (MoU) sebesar USD 19,64 juta dan pesanan pembelian (purchase order/PO) sebesar USD 3,96 juta.
Selama periode Januari–Maret 2026, Ditjen PEN telah menyelenggarakan 170 kegiatan business matching yang melibatkan 396 UMKM dengan total partisipasi mencapai 528 kali.
Baca Juga:
Indonesia Siap Perjuangkan Kepentingan Nasional di KTM ke-14 WTO
Kegiatan business matching tersebut turut didukung berbagai lembaga pembina UMKM, antara lain Bank Indonesia, Bank Jatim, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Food Station, Benih Baik, Japan External Trade Organization, Indonesia Eximbank, serta Desa Bisa Ekspor.
Dari sisi pasar, program UMKM BISA Ekspor telah menjangkau berbagai negara tujuan seperti Jepang, Jerman, Inggris, Belanda, Arab Saudi, dan Kanada, serta kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Adapun sektor produk yang diminati meliputi olahan boga bahari dan perikanan, dekorasi rumah dan furnitur, produk kesehatan dan perawatan tubuh, rempah-rempah, makanan dan minuman, produk pertanian dan perkebunan, fesyen, kosmetik, kakao, kertas, produk kelapa, produk herbal, hingga perlengkapan berbahan plastik.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi menambahkan, UMKM BISA Ekspor dirancang sebagai ekosistem terintegrasi untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan kualitas kurasi produk.
Ke depan, Kementerian Perdagangan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendorong UMKM Indonesia naik kelas dan semakin berdaya saing di pasar global.
[Redaktur: Jupriadi]