WAHANANEWS.CO, New York – Usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan aksi militernya di Venezuela, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bereaksi.
Bahkan pada aksi militer tersebut, Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.
Baca Juga:
Kolombia Nyatakan Siap Berantas Narkoba, Setelah Trump Ancam Petro
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinannya atas ulah Trump tersebut.
Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric, dalam pernyataannya, Sabtu (3/1/2026).
“Sekretaris Jenderal sangat prihatin atas eskalasi terbaru di Venezuela, yang memuncak dengan aksi militer Amerika Serikat hari ini di negara tersebut,” bunyi pernyataannya yang melansir Kompas.tv, Minggu (4/1/2026).
Baca Juga:
Trump Klaim Tangkap Presiden Venezuela, Pemerintah Maduro Nyatakan Tidak Tahu Keberadaan Pemimpinnya
Dujarric menambahkan, Sekjen PBB melihat hal tersebut dapat berpotensi menimbulkan implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan.
“Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan sebuah preseden yang berbahaya,” tuturnya.
Dujarric juga menegaskan Sekjen PBB menekankan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB, oleh semua pihak.
Guterres disebut sangat khawatir kaidah-kaidah hukum internasional tidak dihormati.
“Sekjen menyerukan kepada semua pihak di Venezuela untuk terlibat dalam dialog yang inklusif, dengan penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan supremasi hukum,” bunyi pernyataan tersebut.
Adapun konflik AS-Venezuela memang terus meningkat beberapa waktu terakhir, setelah AS menyerang sejumlah kapal di perairan Venezuela yang disebut milik kartel narkoba.
Usai penangkapan Maduro, Trump menuduh Presiden Venezuela tersebut sebagai otak jaringan kriminal besar.
Ia juga disebut bertanggung jawab atas penyelundupan narkoba ilegal dan mematikan ke AS.
[Redaktur: Alpredo Gultom]