WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di Selat Hormuz mulai mereda setelah Iran akhirnya memberi izin kapal tanker Malaysia melintas, sebuah keputusan yang langsung disambut ucapan terima kasih dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Keputusan tersebut diumumkan Anwar setelah dirinya melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin kawasan, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam upaya memastikan keselamatan kapal dan awaknya.
Baca Juga:
Efek Perang Timur Tengah: Asia Serbu Minyak Rusia, Stok Terancam
"Kita sekarang sedang dalam proses melepaskan kapal-kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang mereka," kata Anwar, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa pembebasan kapal tanker tersebut merupakan hasil dari pembicaraan diplomatik dengan para pemimpin Iran, Turki, Mesir, serta negara-negara lain di kawasan Teluk.
Upaya diplomasi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak pada jalur pelayaran strategis dunia.
Baca Juga:
Ketua Ikasa "93" Resmikan Masjid Aisyah di Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Sumatera Utara
"Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk berterima kasih kepada presiden Iran karena telah memberikan izin perjalanan lebih awal," tutur Anwar.
Anwar juga menyinggung posisi Malaysia yang relatif lebih kuat dalam menghadapi situasi ini berkat kapasitas produksi energi nasional.
Ia menyebut kontribusi perusahaan energi nasional, Petronas, menjadi salah satu faktor penopang ketahanan tersebut.
"Kita berada dalam posisi yang jauh lebih baik," ujarnya.
Berdasarkan data terbaru, Petronas mampu memproduksi sekitar dua juta barel minyak per hari, yang memperkuat ketahanan energi Malaysia di tengah krisis.
Meski demikian, Anwar tetap mengingatkan bahwa dampak konflik global berpotensi memicu gangguan pada rantai pasok, khususnya di sektor pangan.
Ia menegaskan bahwa lonjakan harga menjadi risiko yang tidak terhindarkan dalam situasi seperti ini.
"Hal yang sama berlaku untuk pupuk, dan tentu saja minyak dan gas," kata Anwar.
Selain energi, sektor lain seperti pupuk dan bahan pangan juga diperkirakan akan terdampak akibat terganggunya distribusi global.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi negara-negara untuk bersiap menghadapi potensi krisis ekonomi lanjutan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]