WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan Timur Tengah kembali mendidih ketika Arab Saudi bergerak cepat memimpin diplomasi negara-negara Teluk untuk membendung kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran, sebuah langkah yang dinilai berisiko mengguncang stabilitas kawasan dan pasar energi dunia.
Arab Saudi menggandeng Qatar dan Oman dalam upaya tersebut, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal pada Selasa (13/1/2025), di tengah meningkatnya sinyal eskalasi antara Washington dan Teheran.
Baca Juga:
Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2023 Dipredisksi Alami Penyesuaian
Kekhawatiran utama Riyadh berakar pada potensi dampak langsung konflik terhadap perekonomian domestik Arab Saudi, terutama jika ketegangan berubah menjadi perang terbuka dengan Iran.
Selain faktor ekonomi, serangan AS terhadap Iran dikhawatirkan memicu gejolak politik di dalam negeri negara-negara Teluk, terlebih jika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjadi target dan terbunuh.
Negara-negara Arab di kawasan Teluk juga menilai serangan ke Iran berpotensi mengganggu lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Baca Juga:
Menag Ajukan Penambahan Kuota Haji 2023 Hingga 100 Persen ke Arab Saudi
Langkah diplomatik itu disebut muncul setelah Amerika Serikat menyampaikan peringatan kepada sekutu-sekutunya di Teluk agar bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Peringatan dari Washington tersebut memicu kegelisahan mendalam di berbagai ibu kota Teluk, mengingat potensi dampaknya terhadap keamanan energi, perlindungan infrastruktur strategis, hingga risiko imbas langsung ke wilayah mereka.
Arab Saudi, Qatar, dan Oman kemudian menyampaikan pesan tegas kepada Gedung Putih bahwa upaya menggulingkan sistem pemerintahan Iran akan mengguncang pasar minyak global dan pada akhirnya merugikan perekonomian Amerika Serikat sendiri.
“Langkah perubahan rezim di Teheran berisiko besar mengguncang stabilitas kawasan dan pasar energi global,” demikian kekhawatiran yang disampaikan para pejabat Teluk kepada Washington.
Di saat bersamaan, Riyadh juga mengirim sinyal langsung ke Teheran bahwa Arab Saudi akan tetap berada di luar konflik apa pun yang mungkin pecah.
Arab Saudi menegaskan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah udaranya untuk melancarkan serangan terhadap Iran, sebagai upaya menghindari keterlibatan langsung dalam konfrontasi yang dipimpin Washington.
Negara-negara Teluk secara kolektif juga memperingatkan AS agar tidak mengejar agenda perubahan rezim di Iran karena dinilai hanya akan memperdalam ketidakstabilan geopolitik Timur Tengah.
“Kami telah melakukan kontak untuk membantu menyelesaikan perbedaan antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari kepada wartawan pada Selasa (13/1/2025).
Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan jet tempur F-35, pesawat pembom, serta pesawat tanker ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Sebagai markas terdepan Komando Pusat AS atau CENTCOM, Pangkalan Udara Al Udeid memiliki peran krusial dalam memproyeksikan kekuatan udara Amerika di kawasan Timur Tengah.
Kehadiran kekuatan militer AS dalam skala besar di pangkalan tersebut dinilai memperkuat efek pencegahan sekaligus memperluas jangkauan operasi militer Washington di kawasan.
Pangkalan Al Udeid sebelumnya sempat menjadi sasaran serangan rudal Iran pada pertengahan tahun lalu, ketika konflik antara Teheran dan Israel memanas.
Sebelumnya diberitakan, Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan udara ke Iran di tengah meningkatnya kekerasan terhadap para demonstran di negara tersebut.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]