WAHANANEWS.CO, Jakarta - Rencana perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat dan diperkirakan akan digelar dalam waktu dekat.
Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, sebagaimana dikutip dari Anadolu dan CNN pada Sabtu, 18 April 2026.
Baca Juga:
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Dunia Langsung Bereaksi
Agenda ini menjadi bagian dari langkah lanjutan kedua negara dalam meredakan ketegangan yang selama ini masih membayangi hubungan diplomatik mereka, khususnya terkait program nuklir Iran.
Putaran baru negosiasi dilaporkan akan dilaksanakan pada Senin, 20 April 2026, dengan harapan dapat membuka kembali jalur dialog yang lebih konstruktif.
Sumber dari pihak Iran mengungkapkan bahwa para delegasi dari kedua negara dijadwalkan mulai tiba di Pakistan pada Minggu, 19 April 2026.
Baca Juga:
AS Tolak Proposal Rusia Ambil Alih Uranium Iran, Diplomasi Buntu
Kedatangan lebih awal tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan berbagai hal teknis serta menyusun agenda pembahasan sebelum perundingan resmi dimulai.
Pertemuan ini juga diharapkan mampu melanjutkan proses diplomasi yang sebelumnya belum membuahkan hasil konkret.
Pada putaran pembicaraan sebelumnya yang berlangsung akhir pekan lalu, kedua pihak memang telah berdiskusi selama berjam-jam, namun belum mencapai kesepakatan.
Hal ini menunjukkan masih adanya sejumlah perbedaan mendasar yang perlu dijembatani dalam negosiasi lanjutan.
Meski rencana pertemuan ini telah ramai diberitakan, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Iran.
Namun, Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat menyampaikan bahwa pembicaraan kemungkinan digelar pada akhir pekan, sehingga memperkuat indikasi adanya upaya diplomatik yang terus berjalan.
Dalam proses ini, Pakistan memainkan peran strategis sebagai mediator yang menjembatani komunikasi kedua negara.
Negara tersebut tidak hanya menyediakan lokasi pertemuan, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog demi menciptakan kondisi yang kondusif bagi perundingan.
Bahkan sebelumnya, Pakistan disebut berhasil membantu menengahi gencatan senjata sementara yang berlangsung selama dua pekan.
Gencatan senjata tersebut dijadwalkan berakhir pada awal pekan depan, bertepatan dengan rencana dimulainya putaran negosiasi terbaru.
Kondisi ini membuat pertemuan di Islamabad menjadi sangat krusial, karena berpotensi menentukan arah hubungan kedua negara ke depan, meskipun hasil akhirnya masih belum dapat dipastikan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]