WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel memperkirakan Amerika Serikat bersiap melancarkan serangan terhadap Iran dalam hitungan hari, sebuah skenario yang diyakini dapat mengubah peta konflik kawasan secara drastis.
Perkiraan itu dilaporkan penyiar publik Israel, Hebrew Broadcasting Authority, pada Rabu (14/1/2026), yang menyebut Washington kemungkinan akan memberi tahu Israel hanya beberapa jam sebelum serangan benar-benar dimulai.
Baca Juga:
3.428 Tewas, 10.000 Ditahan: Dunia Kecam Kekerasan Brutal di Iran
Menurut laporan tersebut, pejabat Israel menilai operasi AS berpotensi memadukan serangan siber dengan aksi militer langsung yang menyasar target strategis Iran.
Seiring dengan itu, lembaga-lembaga keamanan Israel disebut telah menaikkan status kewaspadaan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan eskalasi situasi regional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, laporan yang sama mengungkapkan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar sedang melakukan kunjungan ke Abu Dhabi.
Baca Juga:
Isu Hukum Mati Pengunjuk Rasa Dibantah Otoritas Pengadilan Iran
Dalam kunjungan tersebut, Sa’ar disebut menggelar pertemuan rahasia dengan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Abdullah bin Zayed tanpa pengumuman resmi kepada publik.
Pada saat bersamaan, sejumlah pemerintah daerah di Israel mulai mengambil langkah antisipatif meskipun belum ada instruksi resmi dari militer Israel.
Pemerintah kota Beersheba dan Gan Yavne mengumumkan pembukaan tempat perlindungan umum bagi warga sebagai langkah kesiapsiagaan.
Langkah serupa sebelumnya telah dilakukan oleh kota Dimona yang lebih dahulu membuka tempat perlindungan sebagai bentuk partisipasi sipil.
Pembukaan tempat perlindungan itu dilakukan meski otoritas militer Israel belum mengeluarkan perintah atau peringatan resmi terkait ancaman serangan langsung.
Seluruh perkembangan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
Tekanan itu menguat sejak meletusnya gelombang protes rakyat di Iran pada akhir Desember 2025 yang memicu sorotan internasional.
Sejumlah pejabat di Washington dan Tel Aviv sebelumnya melontarkan pernyataan yang menyiratkan harapan akan terjadinya perubahan rezim di Iran.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam status siaga tinggi, seiring potensi eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan regional dan global.
Dalam perkembangan terkait, Kementerian Pertahanan AS memindahkan gugus tugas kapal induk dari Laut China Selatan ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS atau CENTCOM yang mencakup Timur Tengah.
Perpindahan tersebut melibatkan satu gugus tempur yang berpusat pada kapal induk USS Abraham Lincoln dan dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan Washington–Teheran.
Selain armada laut, AS juga mengerahkan jet tempur F-35, pesawat pengebom, dan pesawat tanker ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Sebagai markas terdepan CENTCOM, Pangkalan Udara Al Udeid dinilai sangat krusial dalam memproyeksikan kekuatan udara Amerika di kawasan.
Kehadiran kekuatan besar di pangkalan tersebut disebut dapat memperkuat efek pencegahan sekaligus memperluas jangkauan operasi militer AS di seluruh Timur Tengah.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump untuk sementara menarik kembali ancamannya untuk menyerang Iran pada Rabu (14/1/2026).
“Dan tidak ada rencana untuk eksekusi, jadi saya telah diberitahu hal itu dari sumber yang dapat dipercaya,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump menyebut dirinya diyakinkan bahwa eksekusi terhadap para demonstran telah dihentikan dan tidak ada hukuman mati yang akan dijatuhkan.
Trump juga kembali menyatakan bahwa AS siap “membantu” rakyat Iran dan akan bersiaga jika pemerintah Iran mulai menembaki para demonstran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]