WAHANANEWS.CO - Tragedi mengerikan terjadi di Thailand setelah seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun diduga mengemudikan truk pikap milik orang tuanya tanpa izin hingga menabrak iring-iringan prosesi keagamaan Buddha, menewaskan delapan biksu dan melukai sedikitnya 10 orang pada Kamis (2/7/2026).
Insiden tersebut terjadi ketika rombongan yang terdiri atas 35 biksu dan lima pengikut sedang berjalan di tepi jalan di Provinsi Mukdahan pada Kamis (2/7/2026).
Baca Juga:
Panas Ekstrem Landa Bangkok Masuk Zona Bahaya, Suhu Capai 51,9 Derajat Celsius
"Tersangka adalah seorang anak. Kendaraan tersebut telah dibawa untuk pemeriksaan forensik untuk menentukan penyebabnya," kata Komandan Kepolisian Provinsi Mukdahan Mayor Jenderal Polisi Pairoj Thaiphutsa kepada wartawan.
"Kami telah meminta orang tua anak tersebut untuk datang agar kami dapat menentukan siapa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak tersebut, sehingga kami dapat melanjutkan proses hukum," tambahnya.
Polisi menyatakan bocah tersebut membawa truk pikap milik orang tuanya tanpa izin sebelum kehilangan kendali atas kendaraan dan menabrak rombongan biksu yang sedang melakukan prosesi.
Baca Juga:
Dewan Konsumen Thailand Lawan Meta, Tuntut Tanggung Jawab atas Iklan Penipuan di Facebook
Sebanyak lima biksu meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara tiga lainnya mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan lebih dari 10 korban lainnya masih menjalani perawatan medis.
Kepala Kepolisian Kota Mukdahan Prayut Ruanthongkam memastikan kepada AFP bahwa pengemudi truk tersebut merupakan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun.
Tim medis dan petugas penyelamat darurat segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi para korban sebelum dibawa ke Rumah Sakit Mukdahan guna mendapatkan penanganan.
Gubernur Provinsi Mukdahan Worayan Bunnarat menilai tragedi tersebut harus menjadi pengingat penting mengenai keselamatan berlalu lintas.
"Kami telah sangat ketat dalam hal keselamatan jalan raya dalam beberapa tahun terakhir. Kasus ini harus menjadi pelajaran bukan hanya untuk provinsi kami, tetapi untuk masyarakat umum dalam hal mencegah kecelakaan lalu lintas," katanya.
"Saya pikir semua yang terlibat, terutama orang tua, perlu membantu, karena tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi," imbuhnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]