WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Thailand secara resmi melibatkan para konglomerat dan kelompok usaha besar milik miliarder untuk menahan kenaikan biaya hidup yang kian terasa akibat tekanan inflasi.
Kebijakan ini juga menegaskan kuatnya pengaruh korporasi besar dalam menopang perekonomian negara yang dikenal sebagai Negeri Gajah Putih tersebut.
Baca Juga:
Forbes Update 10 Orang Terkaya Indonesia di Januari 2025
Melansir Straits Times, sejumlah peritel besar, termasuk yang berada di bawah kendali taipan Charoen Sirivadhanabhakdi serta keluarga Chearavanont dan Chirathivat, telah berkomitmen menghadirkan produk kebutuhan sehari-hari seperti makanan, perlengkapan mandi, dan barang pokok lainnya dengan diskon antara 25% hingga 50%. Program ini menjadi bagian dari kampanye pemerintah bertajuk "Thais Helping Thais".
Sejumlah perusahaan yang berpartisipasi dalam kampanye untuk menjaga stabilitas harga ini antara lain CP All dan CP Axtra yang dikendalikan oleh miliarder Dhanin Chearavanont, Central Retail Corp yang dijalankan oleh keluarga Chirathivat, serta Berli Jucker milik Sirivadhanabhakdi.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, yang partainya memenangkan pemilu Februari lalu sebagian besar karena janji untuk meringankan biaya hidup, telah menghabiskan beberapa minggu terakhir mencoba melindungi rumah tangga dari kenaikan harga sambil menjaga keuangan publik yang sudah tertekan.
Baca Juga:
Happy Hapsoro, Sosok Konglomerat di Balik Gurita Bisnis RAJA dan RATU
"Ini adalah langkah penting dalam kerja sama antara sektor publik dan swasta. Apa yang pasti akan terjadi adalah konsumen akan dapat menghemat uang," kata Anutin Charnvirakul saat memberikan keterangan di Bangkok, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Meskipun pemerintah tetap memberlakukan kontrol harga pada puluhan barang esensial, kenaikan biaya energi dan produksi telah mendorong harga bahan pokok seperti daging babi dan telur. Rumah tangga di Thailand juga tengah berjuang melawan biaya bahan bakar yang lebih tinggi yang menekan pendapatan di saat pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat akibat melemahnya pariwisata dan ekspor seiring penurunan permintaan global.
Upaya Charnvirakul untuk mendesak korporasi menjaga stabilitas harga menyoroti fitur utama ekonomi politik Thailand, yakni keselarasan erat antara negara dan segelintir konglomerat kuat yang mendominasi sektor-sektor utama. Meskipun kemitraan semacam itu dapat memberikan bantuan cepat di masa krisis, hal ini juga memperkuat struktur oligopolistik yang membatasi persaingan dan memusatkan kekayaan.