“Kami menjauh agar anak-anak kami tidak bergaul dengan A.”
Tanpa akses interaksi dengan sesama anak-anak, A lebih banyak menghabiskan waktu bersama anjing peliharaan di rumahnya. Dalam kesehariannya, ia meniru perilaku anjing, termasuk menggonggong sebagai sarana komunikasi.
Baca Juga:
Siswa SD Ngada Meninggal Gegara Tak Mampu Beli Buku, Komisi X DPR Ingatkan Negara soal Tanggung Jawab
Menurut laporan media lokal, bocah ini kerap ditinggalkan sendirian bersama anjing-anjing saat ibunya pergi mengemis ke desa atau kuil.
Akibatnya, perilaku dan perkembangan sosial A terbentuk dalam dunia yang sepenuhnya asing bagi manusia.
Kondisi menyedihkan ini akhirnya memantik aksi penyelamatan dari pihak sekolah.
Baca Juga:
Berpamitan Wawancara Kerja, Gadis Deli Serdang Nazwa Pulang dalam Peti dari Kamboja
Kepala sekolah setempat menghubungi Paveena Hongsakul, presiden Paveena Hongsakul Foundation for Children and Women, yang kemudian turun tangan.
Paveena menggandeng aparat polisi, pejabat pendidikan, serta Kementerian Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia untuk mengevakuasi A dari lingkungan yang penuh risiko.
“Dia tidak berbicara. Dia hanya menggonggong. Sungguh menyedihkan melihatnya,” kata Paveena dalam keterangan resminya.