Menurut laporan tersebut, proses perubahan materi berlangsung lebih dari 14 bulan sebelum mendapat sorotan luas setelah adanya intervensi yang diklaim UKLFI pada awal tahun ini.
Menanggapi tudingan tersebut, British Museum kembali membantah telah menghapus istilah "Palestina" dari materi pamerannya.
Baca Juga:
Tangis Ayah Pecah di Hebron, Bayi Palestina Tewas Setelah Tentara Israel Lepaskan Tembakan
"Terdapat laporan yang menyebutkan bahwa British Museum telah menghapus istilah Palestina dari materi pameran. Hal itu sama sekali tidak benar. Kami terus menggunakan istilah Palestina di sejumlah galeri, baik yang menampilkan koleksi kontemporer maupun historis," kata juru bicara British Museum kepada Middle East Eye.
Sementara itu, Duta Besar Palestina untuk Inggris Husam Zomlot mengecam keras langkah museum tersebut dan menyebut persoalan itu menyangkut keberadaan bangsa Palestina.
"Saya tidak bisa lagi berprasangka baik setelah kami melakukan penyelidikan sendiri dan menemukan adanya penghapusan referensi mengenai Palestina, baik era kuno maupun modern, meskipun ada pengakuan resmi dari pemerintah Inggris," ujarnya.
Baca Juga:
Gencatan Senjata Mandek, Trump Gagal Hentikan Kekerasan di Timur Tengah
"Menghapus sejarah adalah langkah awal untuk menghapus masa depan. Hal ini menyangkut eksistensi kami, terutama mengingat genosida yang sedang berlangsung," katanya.
Zomlot mengungkapkan telah mengirimkan surat kepada pihak British Museum dan Pemerintah Inggris agar perubahan tersebut dibatalkan.
"Dengan menghapus penyebutan sejarah Palestina, British Museum mengkhianati komitmen mereka terhadap sejarah dan membiarkan diri mereka dimanfaatkan untuk tujuan politik," tegasnya.