WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gencatan senjata yang dimediasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di sejumlah titik konflik Timur Tengah belum mampu menghentikan kekerasan sepenuhnya.
Dalam sepekan terakhir, serangan masih terjadi di Jalur Gaza, Lebanon selatan, Israel utara hingga Kuwait, meskipun sejumlah kesepakatan damai telah diumumkan oleh Washington.
Baca Juga:
Rapat Lintas Kementerian Digelar, Tito Pastikan Hak Penyintas Banjir Terpenuhi
Trump bahkan mengakui bahwa gencatan senjata yang berlaku saat ini lebih menyerupai upaya meredam intensitas konflik ketimbang menghentikan perang secara total.
"Penembakan dilakukan dengan cara yang lebih moderat," kata Trump pada Rabu, (3/6/2026) menggambarkan kondisi rapuh dari kesepakatan yang telah dinegosiasikan pemerintahannya, seperti dikutip Reuters.
Di Gaza, AS berhasil memediasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada 10 Oktober 2025. Kesepakatan itu mencakup penghentian pertempuran, pembebasan seluruh sandera Hamas, pelepasan tahanan Palestina oleh Israel, penarikan bertahap pasukan Israel, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta pembukaan akses perbatasan menuju Mesir.
Baca Juga:
Batal, Adanya Kejanggalan Rekonstruksi Dugaan Korban Jadi Tersangka, Kuasa Hukum : Kita Akan Surati Komisi III DPR RI
Namun implementasi kesepakatan tersebut masih menghadapi banyak hambatan. Hamas belum menyetujui pelucutan senjata, sementara Israel dan Hamas masih berselisih mengenai distribusi bantuan kemanusiaan. Rekonstruksi Gaza juga belum berjalan signifikan, sedangkan Israel menyatakan ingin memperluas wilayah yang berada di bawah kendalinya.
Akibatnya, serangan udara Israel di Gaza tetap berlangsung. Sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 900 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk sembilan orang dalam serangan terbaru pada Kamis. Di sisi lain, serangan sporadis kelompok militan Palestina juga telah menewaskan empat tentara Israel.
Situasi serupa terjadi di Lebanon. Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang disepakati setelah konflik pada 2024 hanya terlaksana sebagian. Ketegangan kembali meningkat sejak Maret ketika perang yang melibatkan Iran pecah, mendorong Hizbullah kembali melancarkan serangan roket ke Israel dan memicu operasi militer Israel di Lebanon selatan.