WAHANANEWS.CO - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio akhirnya bisa mengunjungi China meski sebelumnya dikenai sanksi masuk oleh Beijing, setelah pemerintah China mengubah penulisan nama Rubio dalam aksara Mandarin sebagai jalan keluar diplomatik.
Rubio mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan ke Beijing yang menjadi pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping.
Baca Juga:
Biaya Logistik Mahal Bikin Produk RI Sulit Bersaing, Mendag Cari Solusi
China sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada Rubio saat masih menjadi senator karena sikap kerasnya terhadap isu hak asasi manusia di China, termasuk soal Uyghur dan Hong Kong.
Dilansir Al Jazeera, AFP, dan CNN, Jumat (15/5/2026), pemerintah China menegaskan sanksi tersebut berkaitan dengan ucapan dan tindakan Rubio ketika masih menjabat senator Amerika Serikat.
"Sanksi tersebut menargetkan ucapan dan perbuatan Bapak Rubio ketika dia menjabat sebagai senator AS terkait China," kata juru bicara Kedutaan Besar China Liu Pengyu.
Baca Juga:
Oknum Petugas Kargo Bandara Soetta Curi Tas Lululemon, Kerugian Tembus Rp 1 Miliar
Tak lama sebelum Rubio menjabat Menteri Luar Negeri pada Januari 2025, pemerintah China dan media resmi mulai menggunakan karakter Mandarin berbeda untuk penulisan nama belakang Rubio, khususnya pada suku kata pertama “Lu”.
Perubahan transliterasi itu membuat Beijing tetap bisa menerima kedatangan Rubio tanpa secara resmi mencabut sanksi lama terhadap dirinya.
Langkah tersebut dinilai menjadi celah diplomatik agar China tetap dapat mempertahankan status sanksi, namun di saat bersamaan membuka jalur komunikasi tingkat tinggi dengan pemerintahan Trump.
Perbedaan penulisan nama Rubio juga tampak di papan nama resmi dalam ruang pertemuan di Beijing, di mana nama Rubio ditulis menggunakan karakter berbeda dibanding saat pengumuman sanksi pada 2020.
Dua diplomat meyakini perubahan penulisan nama itu merupakan cara cepat bagi China untuk menghindari penerapan larangan masuk terhadap Rubio berdasarkan ejaan lama namanya.
Kehadiran Rubio di Beijing juga menjadi sorotan setelah Gedung Putih merilis foto dirinya di Air Force One mengenakan pakaian olahraga Nike yang disebut mirip dengan outfit Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat ditangkap pasukan AS.
Rubio selama ini dikenal sebagai politikus keturunan Kuba-Amerika yang vokal menentang komunisme dan menjadi salah satu penggagas undang-undang sanksi terhadap China terkait dugaan kerja paksa terhadap minoritas Uyghur Muslim.
Tuduhan tersebut selama ini dibantah keras oleh pemerintah China.
Pada sidang konfirmasinya sebagai Menteri Luar Negeri, Rubio bahkan menyebut China sebagai tantangan geopolitik terbesar bagi Amerika Serikat.
Namun setelah menjabat, Rubio mendukung pendekatan Donald Trump yang lebih menekankan hubungan dagang dan diplomasi dengan Xi Jinping dibanding fokus pada isu hak asasi manusia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]