WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa proses penyusunan rancangan kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia hampir rampung.
Ia menyebut dokumen perdamaian tersebut telah mencapai sekitar 90 persen, namun menegaskan bahwa sisa pembahasan justru menyangkut persoalan paling krusial yang akan menentukan masa depan Ukraina dan stabilitas kawasan Eropa.
Baca Juga:
Zelenskyy Tekankan Tekanan Global untuk Akhiri Perang Ukraina-Rusia
Dalam pidato sambutan Tahun Baru 2026, Zelenskyy menyampaikan keinginan kuat negaranya untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak 2022.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kesepakatan damai tidak boleh memberi keuntungan strategis bagi Rusia dan harus disertai jaminan keamanan yang konkret agar invasi serupa tidak terulang di masa mendatang.
"Kesepakatan damai sudah siap 90 persen, masih ada 10 persen lagi," ujarnya dikutip France24, Kamis (1/1/2026).
Baca Juga:
Presiden Ukraina Minta Trump Dukung Paket Sanksi Baru untuk Rusia
Zelenskyy menjelaskan bahwa porsi kecil yang belum disepakati itu justru menjadi penentu utama arah perdamaian.
Menurutnya, keputusan atas 10 persen terakhir tersebut bukan hanya berpengaruh bagi Ukraina, tetapi juga bagi keamanan Eropa secara keseluruhan serta keberlangsungan perdamaian jangka panjang.
Upaya diplomasi untuk menghentikan perang terus dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dengan berperan sebagai mediator antara Kyiv dan Moskow.
Namun, hingga kini kedua pihak masih menemui jalan buntu, terutama terkait isu teritorial yang menjadi bagian paling sensitif dalam rancangan kesepakatan damai tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka menyatakan tuntutan negaranya untuk menguasai penuh wilayah Donbas di timur Ukraina.
Wilayah tersebut saat ini sebagian besar berada di bawah kendali Rusia, dengan Moskow disebut telah menguasai hampir 90 persen kawasan strategis itu.
"Tentara Ukraina harus keluar dari Donbas seluruhnya," ujarnya dikutip BBC beberapa waktu lalu. Putin menegaskan bahwa Rusia tidak membuka ruang kompromi dalam tuntutan tersebut.
Di sisi lain, Zelenskyy meragukan klaim Rusia yang menyebut penarikan pasukan Ukraina dari Donbas akan mengakhiri perang.
Ia menilai langkah tersebut justru berisiko membuka peluang agresi lanjutan, mengingat wilayah Donbas memiliki nilai strategis dan ekonomi yang besar, termasuk cadangan batu bara.
"Mundur dari Donbas dan semuanya akan berakhir, itu hanya tipu daya Rusia saja," ucapnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]