Pihak Istana Presiden Perancis juga belum memberikan keterangan resmi terkait kemungkinan adanya peran diplomatik dalam kelancaran pelayaran kapal tersebut.
Data dari LSEG menunjukkan bahwa pada Kamis (2/4/2026), kapal tersebut mengubah tujuan dalam Sistem Identifikasi Otomatisnya menjadi "Owner France (Pemilik Perancis)", yang umum digunakan sebagai penanda identitas kepemilikan.
Baca Juga:
Iran Klaim Tembak Jatuh Jet AS, Washington Sontak Membantah
Perubahan data tersebut dilakukan sebelum kapal memasuki perairan teritorial Iran di Selat Hormuz, yang diduga sebagai sinyal kepada otoritas Iran terkait afiliasi nasional kapal tersebut, sementara tujuan awalnya adalah Pointe-Noire di Republik Kongo.
Berdasarkan laporan AFP, pada Jumat (3/4/2026), data navigasi menunjukkan bahwa kapal tersebut melintasi perairan Iran melalui rute baru yang telah disetujui.
Rute tersebut dikenal dengan sebutan "Tehran Toll Booth (Gerbang Tol Teheran)", istilah yang digunakan oleh publikasi pelayaran Lloyd's List untuk menggambarkan jalur khusus tersebut.
Baca Juga:
Ganguan di Selat Hormuz Tekan Kinerja Ekspor Karet Sumut
Setidaknya dua kapal diketahui telah membayar untuk menggunakan koridor pelayaran di sekitar Pulau Larak yang berada di lepas pantai Iran.
Sejumlah kapal komersial lainnya juga tercatat melintas di jalur tersebut dengan transponder aktif sejak awal konflik, dengan rute yang melewati dekat Pulau Larak.
Sebagian besar kapal yang melintas sejak Sabtu (1/3/2026) merupakan kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran atau negara-negara seperti Uni Emirat Arab, India, China, dan Arab Saudi.