WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah ketegangan geopolitik yang membatasi jalur vital energi dunia, sebuah kapal kontainer asal Perancis berhasil menembus Selat Hormuz, memicu spekulasi baru soal dinamika kekuatan dan diplomasi di kawasan tersebut.
Kapal kontainer Kribi milik perusahaan pelayaran Perancis CMA CGM, berbendera Malta, tercatat berhasil melintasi Selat Hormuz pada Kamis (2/4/2026), berdasarkan data pelacakan MarineTraffic.
Baca Juga:
Iran Klaim Tembak Jatuh Jet AS, Washington Sontak Membantah
Keberhasilan ini terjadi setelah Iran membatasi akses ke Selat Hormuz menyusul konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari, yang berdampak signifikan terhadap lalu lintas maritim global.
"Selat ini harus dibuka kembali karena strategis untuk aliran energi, pupuk, dan perdagangan internasional, tetapi hal itu hanya dapat dilakukan dengan berkonsultasi dengan Iran," kata Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Kamis (2/4/2026).
Kapal tersebut kemudian meninggalkan kawasan Teluk dan terpantau berlayar di lepas pantai Muscat, Oman, pada Jumat (3/4/2026).
Baca Juga:
Ganguan di Selat Hormuz Tekan Kinerja Ekspor Karet Sumut
Kribi menjadi kapal Perancis pertama yang diketahui berhasil melewati selat tersebut sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari, sekaligus menjadi perlintasan pertama oleh perusahaan pelayaran besar Eropa sejak awal Maret.
Keberhasilan ini memunculkan dugaan bahwa Iran tidak memandang Perancis sebagai pihak yang bermusuhan dalam konflik yang sedang berlangsung.
Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti bagaimana kapal tersebut memperoleh izin melintasi jalur yang dibatasi tersebut, sementara pihak CMA CGM tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Pihak Istana Presiden Perancis juga belum memberikan keterangan resmi terkait kemungkinan adanya peran diplomatik dalam kelancaran pelayaran kapal tersebut.
Data dari LSEG menunjukkan bahwa pada Kamis (2/4/2026), kapal tersebut mengubah tujuan dalam Sistem Identifikasi Otomatisnya menjadi "Owner France (Pemilik Perancis)", yang umum digunakan sebagai penanda identitas kepemilikan.
Perubahan data tersebut dilakukan sebelum kapal memasuki perairan teritorial Iran di Selat Hormuz, yang diduga sebagai sinyal kepada otoritas Iran terkait afiliasi nasional kapal tersebut, sementara tujuan awalnya adalah Pointe-Noire di Republik Kongo.
Berdasarkan laporan AFP, pada Jumat (3/4/2026), data navigasi menunjukkan bahwa kapal tersebut melintasi perairan Iran melalui rute baru yang telah disetujui.
Rute tersebut dikenal dengan sebutan "Tehran Toll Booth (Gerbang Tol Teheran)", istilah yang digunakan oleh publikasi pelayaran Lloyd's List untuk menggambarkan jalur khusus tersebut.
Setidaknya dua kapal diketahui telah membayar untuk menggunakan koridor pelayaran di sekitar Pulau Larak yang berada di lepas pantai Iran.
Sejumlah kapal komersial lainnya juga tercatat melintas di jalur tersebut dengan transponder aktif sejak awal konflik, dengan rute yang melewati dekat Pulau Larak.
Sebagian besar kapal yang melintas sejak Sabtu (1/3/2026) merupakan kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran atau negara-negara seperti Uni Emirat Arab, India, China, dan Arab Saudi.
Pada awal Maret, sejumlah kapal mulai menunjukkan afiliasi dengan China saat berlayar atau berlabuh di kawasan Teluk sebagai strategi untuk menandai netralitas politik dan menghindari potensi risiko dari Iran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]