WAHANANEWS.CO, Jakarta - Serangan Iran yang berhasil menjatuhkan dua pesawat tempur Amerika Serikat menjadi peristiwa langka yang langsung mengguncang persepsi kekuatan militer global dalam konflik modern, terutama karena insiden seperti ini nyaris tak pernah terjadi dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Peristiwa tersebut juga berlawanan dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut kekuatan militer Iran telah “hancur total”, sehingga memunculkan pertanyaan baru tentang efektivitas strategi dan teknologi kedua negara dalam medan tempur aktual.
Baca Juga:
Tujuh Kapal Malaysia Bebas Meluncur di Selat Hormuz, Anwar: Cukup Telepon Iran Sekali
Pendekatan yang digunakan Iran diduga tidak mengandalkan radar konvensional, melainkan memanfaatkan teknologi sensor optik dan inframerah yang mampu mendeteksi jejak panas pesawat tempur tanpa memancarkan sinyal.
Metode ini bekerja dengan membaca panas mesin serta gesekan badan pesawat di udara, sehingga memungkinkan operator mengunci target secara pasif tanpa terdeteksi oleh sistem peringatan dini lawan.
Dengan teknologi electro-optical/infrared atau EO/IR, sistem dapat mengikuti pergerakan target secara presisi hingga rudal diluncurkan dan mengenai sasaran, menjadikannya berbeda dari radar aktif yang mudah terdeteksi.
Baca Juga:
Ancaman Trump Soal Penutupan Selat Hormuz, Iran Respons Tuntut Konpensasi
Salah satu sistem yang diduga digunakan dalam serangan tersebut adalah rudal Majid (AD-08) buatan dalam negeri Iran yang dirancang untuk menghadapi ancaman udara di ketinggian rendah.
Rudal ini dipasang pada kendaraan taktis Aras-2 (4×4) yang membuatnya fleksibel dan mudah berpindah posisi di medan tempur.
Kemampuannya mencakup deteksi target hingga 15 kilometer tanpa radar, jangkauan serangan dari 700 meter hingga 8 kilometer dengan ketinggian hingga 6 kilometer, serta kecepatan mencapai Mach 2.
Sistem ini juga disebut mampu melacak dan menyerang hingga empat target secara bersamaan, menjadikannya efektif sebagai pertahanan titik terhadap pesawat rendah, drone, maupun rudal jelajah.
Menjatuhkan jet tempur modern seperti F-15E Strike Eagle dan A-10 Warthog bukan perkara mudah karena kedua pesawat dirancang untuk menghindari deteksi, termasuk dari sistem inframerah.
Sensor inframerah harus mampu mengunci panas mesin yang relatif kecil dibandingkan latar belakang langit, sementara faktor cuaca, jarak, dan sudut pandang menjadi tantangan tambahan.
Karena itu, keberhasilan Iran dinilai sangat bergantung pada kondisi tertentu yang jarang terjadi dalam situasi tempur normal.
Analisis menunjukkan Iran kemungkinan memanfaatkan momen ketika pesawat berada pada jarak dekat dan ketinggian rendah sehingga peluang penguncian target meningkat secara signifikan.
Dalam kondisi seperti itu, pesawat bisa lebih rentan terutama ketika pilot sedang fokus pada misi lain atau telah menggunakan flare sebagai sistem pertahanan.
Dengan demikian, Iran dinilai tidak secara langsung mengungguli teknologi Amerika Serikat, melainkan memanfaatkan celah kecil dalam dinamika pertempuran yang sangat kompleks.
Pada Jumat (3/4/2026), sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat dilaporkan ditembak jatuh di wilayah Iran Tengah dengan dua awak berada di dalamnya.
Satu awak berhasil diselamatkan beberapa jam kemudian, sementara satu lainnya sempat hilang dan menjadi fokus pencarian intensif militer AS.
Pesawat kedua, A-10 Warthog, juga terkena serangan namun pilotnya berhasil keluar dan tetap mengendalikan pesawat hingga mencapai wilayah udara Kuwait sebelum akhirnya diselamatkan.
Militer Amerika Serikat kemudian meluncurkan operasi penyelamatan besar-besaran untuk mengevakuasi awak yang terjebak di wilayah musuh.
“Kami menemukannya! Militer Amerika Serikat baru saja melakukan salah satu operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah,” ujar Donald Trump.
Operasi tersebut disebut berlangsung dalam kondisi ekstrem karena pilot berada di wilayah pegunungan yang berbahaya dan berada di belakang garis musuh.
“Prajurit pemberani ini berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya, diburu oleh musuh yang semakin mendekat dari jam ke jam,” kata Donald Trump.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]