WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berhasil melewati beberapa hari pertama yang penuh gejolak. Dokumen kesepakatan awal ini menjadi peta jalan menuju potensi resolusi jangka panjang untuk mengakhiri perang yang dipicu oleh AS dan Israel selama hampir empat bulan terakhir.
Mengutip laporan Al Jazeera, Kamis (25/6/2026), proses diskusi politik dan teknis yang rumit selama berbulan-bulan masih membentang di depan mata. Di tengah situasi geopolitik yang sangat rawan tersebut, masyarakat Iran terus mengawasi jalannya meja perundingan dengan rasa optimisme yang sangat terbatas.
Baca Juga:
Ghalibaf: Selat Hormuz Tak Akan Kembali ke Kondisi Sebelum Perang
"Kami beralih dari pengeboman setiap hari menjadi pembicaraan tentang pembelian jagung dari AS. Jadi, itu perubahan yang bagus, tetapi kualitas hidup kami masih memburuk dari hari ke hari," keluh Ehsan, seorang warga sipil yang tinggal di pusat kota Teheran.
Pernyataan Ehsan merujuk pada kabar bahwa Iran akan diizinkan membeli komoditas kemanusiaan termasuk makanan dan obat-obatan dari AS. Transaksi tersebut memanfaatkan dana luar negeri milik Teheran yang sempat dibekukan dan rencananya akan segera dicairkan sebagai poin pemulihan dalam kesepakatan damai.
Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, menjelaskan bahwa Teheran membuka peluang untuk membeli jagung, gandum, serta produk pertanian lainnya dari pihak Washington. Namun, ia menggarisbawahi bahwa isi teks perjanjian tertulis tidak memberikan kewajiban hukum mutlak bagi Iran untuk membelinya dari AS jika harga dan kualitasnya tidak sesuai.
Baca Juga:
Trump Mulai Jengkel ke Netanyahu, Sebut Israel Bisa Gagalkan Damai AS-Iran
Kementerian Keuangan AS juga telah menerbitkan lisensi umum sebagai bagian dari implementasi draf kerja sama yang memberikan izin resmi bagi Iran untuk memproduksi, mengirim, dan menjual komoditas minyak mentah hingga tanggal 21 Agustus. Kebijakan ini membuat Iran dapat menjual minyak tanpa perlu menggunakan metode jalur belakang, pemalsuan rute kapal, atau sistem barter yang rumit, sehingga diharapkan bisa segera menyuntikkan dana segar ke dalam ekonomi domestik yang sedang dihantam inflasi ekstrem.
Harapan untuk Sebuah Perjanjian Nyata
Selain pemulihan ekspor minyak, otoritas Iran melaporkan bahwa aktivitas perdagangan maritim tradisional di pelabuhan bagian selatan mulai aktif kembali untuk mengangkut barang kebutuhan pokok yang sempat tertahan di Uni Emirat Arab (UEA). Meski demikian, akses pasar utama di negara tetangga belum sepenuhnya pulih bagi para pedagang lokal pasca-perang berkepanjangan.