Seiring meningkatnya kualitas dan sensitivitas informasi yang diberikan, para korban disebut berpotensi mendapatkan tawaran bayaran yang lebih besar.
Lembaga-lembaga intelijen tersebut menegaskan bahwa bahkan informasi yang tidak tergolong rahasia sekalipun tetap memiliki nilai bagi pemerintah China karena dapat digunakan untuk melengkapi gambaran intelijen yang lebih luas.
Baca Juga:
Bukan Soal Nilai atau IQ, Ini 7 Ciri Orang Cerdas yang Jarang Disadari
"Jenis data tertentu dapat membahayakan nyawa personel militer atau personel lain di garis depan, dapat melemahkan kemakmuran ekonomi kita, dan memungkinkan campur tangan dalam proses demokrasi kita," tulis lembaga-lembaga tersebut.
Mereka juga mengungkap telah menemukan sejumlah kasus di mana individu yang tertipu dalam skema tersebut akhirnya menghadapi konsekuensi serius berupa tuntutan pidana, kehilangan pekerjaan, hingga pencabutan izin keamanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, badan-badan intelijen Barat memang berulang kali menyampaikan kekhawatiran mengenai aktivitas spionase yang diduga berasal dari China, Rusia, dan Iran.
Baca Juga:
Kisah Robert Albon, Pria yang Sebarkan Sperma ke Seluruh Dunia dan Kini Gagal Dapat Hak sebagai Ayah
Kekhawatiran itu kembali menguat setelah pada bulan lalu dua warga negara berkewarganegaraan ganda China-Inggris dinyatakan bersalah oleh pengadilan di London karena memata-matai para aktivis pro-demokrasi Hong Kong atas nama Beijing.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.