WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pergantian pucuk pengamanan Istana Venezuela terjadi cepat setelah penangkapan dramatis Presiden Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat, memicu perombakan sensitif di lingkaran kekuasaan Caracas.
Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez memecat Jenderal Javier Marcano Tabata dari jabatan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden hanya beberapa hari setelah operasi militer Amerika Serikat yang menangkap Maduro pada Sabtu (3/1/2026).
Baca Juga:
Pilot EVA Air Pukul Kopilot di Kokpit, Maskapai Jatuhkan Sanksi
Penangkapan Maduro tersebut disertai serangan bersenjata yang menewaskan sejumlah personel pengamanan presiden, meski pemerintah Venezuela hingga kini belum merinci jumlah korban secara resmi.
Pemerintah Kuba, sebagai sekutu lama Venezuela, melaporkan sebanyak 32 warganya yang diduga menjadi bagian dari pengawal Maduro turut tewas dalam operasi tersebut.
Militer Venezuela juga mengonfirmasi 23 anggotanya tewas, termasuk lima jenderal, dalam operasi militer Amerika Serikat tersebut.
Baca Juga:
Klaim Tak Butuh Hukum Internasional, Trump Tegaskan Siap Pakai Kekuatan demi Kepentingan AS
Rodriguez yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden dan kemudian dilantik sebagai presiden interim oleh Majelis Nasional mengeluarkan perintah pemecatan terhadap Tabata sebagai bagian dari perombakan pejabat senior.
Selain memimpin Paspampres, Tabata juga menjabat Kepala Direktorat Jenderal Kontraintelijen Militer Venezuela atau DGCIM.
Unit DGCIM selama bertahun-tahun dituduh Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan pelanggaran hak asasi manusia secara sistematis, termasuk penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap para tahanan sejak 2013.