WAHANANEWS.CO - Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar Eropa kembali memicu tragedi memilukan. Dua anak kecil ditemukan tewas di dalam sebuah mobil di Prancis, di tengah suhu tinggi yang memecahkan rekor dan memaksa berbagai negara mengeluarkan peringatan darurat.
Kedua anak yang berusia dua dan empat tahun itu ditemukan pada Senin (22/6/2026) di dalam mobil keluarga yang terparkir di kawasan permukiman kota Carpentras, Prancis selatan.
Baca Juga:
Taufik Hidayat Diburu Polisi, Sayembara Rp250 Juta Diberlakukan di Jabar
Dilansir AFP, Selasa (23/6/2026), aparat penegak hukum menduga kuat bahwa gelombang panas menjadi penyebab paling mungkin atas kematian kedua anak tersebut.
Layanan darurat mengatakan anak-anak itu ditemukan dalam kondisi henti jantung setelah menerima laporan sekitar pukul 13.20 waktu setempat.
Petugas juga memberikan perawatan medis kepada ibu dari kedua anak tersebut yang saat ini masih belum dapat dimintai keterangan oleh penyidik.
Baca Juga:
BUMDes Sitinjo II TA 2025 Merugi Hingga Rp166 Juta
Sementara itu, gelombang panas yang melanda Eropa telah memicu gangguan luas di berbagai sektor, mulai dari pembatalan kegiatan luar ruangan, gangguan transportasi, penutupan sekolah, hingga kebijakan kerja dari rumah di sejumlah wilayah.
Otoritas di berbagai negara juga mengeluarkan peringatan kesehatan khusus untuk melindungi kelompok rentan seperti lansia dari dampak suhu ekstrem.
Para ilmuwan menegaskan bahwa gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan salah satu tanda nyata dari pemanasan global, dan diperkirakan akan semakin intens di masa mendatang.
Di Prancis, suhu rata-rata bulan Juni tercatat memecahkan rekor, menurut lembaga cuaca Meteo-France.
Negara tersebut bahkan menutup lebih dari 1.350 sekolah akibat kondisi panas yang ekstrem.
Suhu rata-rata siang dan malam di Prancis tercatat mencapai 29,2 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya yang terjadi pada 30 Juni 2025 berdasarkan data sementara.
Meteo-France juga memperluas status peringatan merah gelombang panas ke lebih dari separuh wilayah administratif Prancis, yang berdampak pada sekitar 39 juta penduduk.
Perdana Menteri Sebastien Lecornu dijadwalkan menggelar pertemuan krisis untuk membahas dampak situasi tersebut.
Di Spanyol, ibu kota Madrid mencatat suhu hingga 40 derajat Celsius pada Senin (22/6/2026).
Pemerintah setempat membuka sejumlah “tempat perlindungan iklim” bagi tunawisma dan kelompok rentan, yang menyediakan air minum, makanan, serta fasilitas kebersihan pada siang hingga malam hari.
Seorang tunawisma bernama Camilo menggambarkan kondisi tersebut sebagai sangat berat dan menyiksa.
"Sangat berat, benar-benar berat. Bagi seseorang yang tidak terbiasa berada di jalanan, tidak mandi, tidak makan, ini agak sulit. Panas di luar sangat menyengat," katanya kepada TeleMadrid.
Di wilayah selatan Spanyol seperti Cordoba, suhu yang mencapai 40 derajat Celsius membuat suasana kota menjadi lengang pada siang hari, dengan warga berupaya melindungi diri menggunakan payung atau mengonsumsi es krim.
Seorang wisatawan asal Meksiko, Clarisa Arismendi, juga mengaku sangat terdampak oleh cuaca ekstrem tersebut.
"Rasanya mengerikan," ujarnya kepada AFP. "Panasnya saat ini benar-benar, benar-benar, benar-benar buruk."
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]