WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tujuh bulan jelang pemilu paruh waktu 2026 di Amerika Serikat, gelombang ketidakpuasan publik terhadap Presiden AS Donald Trump justru semakin menguat dan memunculkan pesimisme luas atas arah kebijakan pemerintahannya.
Respon negatif ini muncul seiring sejumlah kebijakan Trump yang dinilai tidak populer serta berdampak signifikan terhadap kondisi politik dan ekonomi domestik.
Baca Juga:
Elon Musk Serukan Pemakzulan Trump! Drama Politik AS Makin Panas
Dilansir dari Reuters, Jumat (20/3/2026) -- Trump menjabat sebagai Presiden sejak 2025 dengan janji menekan inflasi dan menghindari keterlibatan militer AS dalam konflik luar negeri.
Ia juga aktif mengampanyekan dirinya sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel Perdamaian.
Namun pada awal 2026, Trump justru memulai serangan militer ke Venezuela yang berlawanan dengan komitmen awalnya.
Baca Juga:
Dolar Tersingkir, 93% Transaksi EAEU Kini Gunakan Mata Uang Lokal
Di sisi lain, konflik dengan Iran berkembang jauh lebih kompleks setelah Teheran melancarkan serangan balasan di kawasan strategis yang menjadi jalur vital pasokan energi global.
Situasi ini secara langsung memengaruhi tingkat kepercayaan publik AS terhadap kebijakan Trump sekaligus berpotensi mengganggu peluang politiknya menjelang pemilu November 2026.
Dilansir dari CNN, Kamis (26/3/2026) -- survei Ipsos yang dirilis Selasa (24/3/2026) menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kebijakan ekonomi Trump anjlok ke angka 29 persen.
Angka tersebut turun dari kisaran 34 hingga 36 persen pada Januari dan Februari serta lebih rendah dibanding capaian terendah mantan Presiden Joe Biden di angka 32 persen.
Sejak pertengahan Februari sebelum konflik memanas, penilaian publik terhadap Trump dalam isu biaya hidup merosot dari minus 31 menjadi minus 41.
Untuk isu inflasi dan kenaikan harga, penilaiannya turun lebih dalam dari minus 33 menjadi minus 45.
Penurunan paling mencolok justru terjadi di basis pemilih Partai Republik sendiri.
Sebanyak 34 persen pemilih Republik kini tidak setuju dengan kinerja Trump terkait biaya hidup, naik dari sebelumnya 27 persen.
Sementara ketidaksetujuan terhadap penanganan inflasi melonjak dari 28 persen menjadi 40 persen.
Survei lain memang tidak selalu menunjukkan penurunan drastis, tetapi memberikan sinyal kuat bahwa perang dengan Iran memperburuk persepsi publik terhadap kondisi ekonomi.
Survei AP-NORC mencatat 45 persen warga Amerika merasa sangat atau cukup khawatir tidak mampu membeli bahan bakar dalam beberapa bulan ke depan.
Sebanyak 67 persen responden juga menilai pemerintah harus memprioritaskan pencegahan kenaikan harga minyak dan gas.
Bahkan menjaga stabilitas harga energi dinilai lebih penting dibanding mencegah ancaman Iran terhadap Israel maupun upaya mengganti pemerintahan Iran.
Survei CBS News-YouGov menunjukkan 63 persen warga Amerika percaya perang akan memperburuk kondisi ekonomi dalam jangka pendek.
Hanya 15 persen yang optimistis ekonomi akan membaik akibat konflik tersebut.
Dalam jangka panjang, mayoritas publik tetap memprediksi kondisi ekonomi akan melemah.
Sebanyak 58 persen responden memperkirakan harga minyak dan gas akan terus meningkat, sementara hanya 27 persen yang memperkirakan akan turun.
Trump sendiri meyakini perang dapat menurunkan harga minyak dalam jangka panjang dan meminta publik menerima kenaikan harga sementara.
Namun dua pertiga responden menolak gagasan tersebut dan tidak bersedia membayar bahan bakar lebih mahal selama konflik berlangsung.
Masalah lain yang mencuat adalah persepsi bahwa Trump terlalu fokus pada isu luar negeri.
Sebelum perang, 45 persen warga Amerika menilai Trump terlalu fokus pada urusan internasional, namun kini angka itu melonjak menjadi 58 persen.
Di kalangan independen, angkanya meningkat dari 52 persen menjadi 66 persen.
Sementara di kalangan pemilih Republik sendiri, persepsi tersebut naik dari 19 persen menjadi 29 persen.
Kondisi ini semakin memperburuk posisi Trump dalam isu ekonomi yang sejak awal sudah menjadi titik lemahnya.
Berbeda dengan Biden yang dikritik karena kurang fokus pada inflasi, Trump justru mengambil langkah yang dinilai berkontribusi langsung terhadap kenaikan harga.
Bahkan jika konflik berakhir dan jalur energi global kembali normal, dampaknya diperkirakan masih akan dirasakan dalam beberapa bulan ke depan.
Survei awal juga menunjukkan publik Amerika sangat khawatir terhadap dampak perang terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Sejumlah tokoh penting dalam gerakan Make America Great Again (MAGA) turut mengkritik langkah Trump.
Mereka memperingatkan konflik tersebut berpotensi merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu pada November 2026.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]