WAHANANEWS.CO, Jakarta - Hubungan Indonesia dan Iran disebut sedang berada dalam titik sensitif setelah mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menyoroti serangkaian insiden diplomatik yang dinilai membuat Teheran kecewa terhadap Jakarta.
Pernyataan itu disampaikan Dian dalam acara Satu Meja The Forum Kompas TV, dikutip Kamis (25/06/2026).
Baca Juga:
Luhut Bongkar Evaluasi MBG, Sebut Program Terlalu Buru-buru Dijalankan
“Iran sudah berkali-kali, tolong catat, berkali-kali dikecewakan Indonesia,” kata Dian.
Dian menjelaskan bahwa meski dunia menyambut momentum damai antara Amerika Serikat dan Iran, hubungan Indonesia dengan Teheran justru masih menyimpan luka diplomatik.
Salah satu persoalan yang ia soroti adalah penahanan kapal tanker Iran di Batam sejak 2023 yang menurutnya masih berpotensi disengketakan melalui jalur hukum internasional.
Baca Juga:
Babak Baru Kasus Edison, KPK Temukan Dugaan Permainan Opini BPK Muara Enim
Selain perkara kapal tanker, Dian juga mengungkap insiden dalam Latihan Komodo 2025 saat kapal perang Iran yang telah tiba di Indonesia disebut diminta pergi karena tekanan Amerika Serikat.
“Iran diundang, sudah datang dengan dua kapal perangnya untuk ikut latihan,” ucap Dian.
Menurut Dian, perlakuan terhadap kapal perang Iran tersebut mencederai etika diplomasi karena negara itu sebelumnya sudah mendapat undangan resmi.
“Begitu datang disuruh pulang karena Amerika tidak suka,” ucapnya.
Ia menilai rangkaian peristiwa itu membuat posisi Indonesia dipertanyakan dalam menjalankan hubungan luar negeri dengan Iran.
Dian juga mengkritik arah sikap Indonesia dalam konflik Timur Tengah yang dinilainya terlalu condong pada salah satu pihak, termasuk melalui keterlibatan dalam Board of Peace atau BOP.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Iran merasa Indonesia tidak lagi sepenuhnya menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Dian berpandangan bahwa momentum damai Amerika Serikat dan Iran seharusnya dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat kepentingan nasional, terutama dalam pengamanan pasokan energi.
Namun, ia menilai Indonesia perlu lebih dulu menunjukkan iktikad baik kepada Iran agar hubungan bilateral bisa kembali dibangun secara sehat.
Salah satu langkah konkret yang disarankan Dian adalah pertukaran pembebasan kapal tanker antara kedua negara sebagai bentuk tindakan resiprokal.
“Karena itu akan membantu kita membebaskan dua kapal tanker kita yang ditahan,” ucap Dian.
Momentum damai Amerika Serikat dan Iran disebut membuka ruang baru bagi stabilitas kawasan, termasuk bagi jalur distribusi energi yang selama ini terganggu di sekitar Selat Hormuz.
Negosiasi putaran pertama antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss pada Senin (22/06/2026) telah selesai dengan menghasilkan sejumlah kesepahaman awal.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyebut pembicaraan tersebut membangun fondasi yang sukses untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang.
Pertemuan itu berlangsung di kawasan pegunungan Burgenstock, Swiss, setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding untuk mengakhiri konflik.
Pembicaraan tersebut melibatkan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Proses diplomasi tersebut turut dimediasi Pakistan dan Qatar sebagai pihak yang membantu membuka ruang komunikasi antara kedua negara.
Kerangka kesepahaman itu memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk menyusun perjanjian akhir.
Masa penyusunan perjanjian akhir tersebut masih dapat diperpanjang apabila disetujui bersama oleh kedua pihak.
Perjanjian damai Amerika Serikat dan Iran dinilai dapat memberi keuntungan bagi Indonesia, terutama terkait kelancaran distribusi energi yang sempat tertahan di kawasan Selat Hormuz.
Dalam konteks itu, hubungan Indonesia dan Iran menjadi penting untuk diperbaiki agar peluang diplomasi energi tidak hilang karena akumulasi kekecewaan politik.
Dian menilai Indonesia perlu membaca ulang posisinya agar kepentingan nasional tetap terjaga tanpa mengabaikan etika diplomasi terhadap negara sahabat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]