WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengungkapkan bahwa hampir 8.000 migran di berbagai belahan dunia dilaporkan meninggal dunia atau hilang sepanjang tahun 2025.
Angka ini menambah panjang daftar korban jiwa akibat fenomena migrasi global, sehingga total korban sejak 2014 kini telah melampaui 82.000 orang.
Baca Juga:
Lonjakan Harga Minyak Goreng Picu Kekhawatiran, DPR Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Selasa, 21 April 2026, IOM juga memperkirakan sekitar 340.000 anggota keluarga terdampak langsung oleh tragedi kemanusiaan tersebut.
Dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan sosial, terutama bagi keluarga yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya.
Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, menegaskan bahwa perubahan rute migrasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir tidak otomatis membuat perjalanan menjadi lebih aman.
Baca Juga:
Kanada Soroti Peran Strategis Indonesia, ICA-CEPA Jadi Kunci Kemitraan Masa Depan
Menurutnya, dinamika global seperti konflik bersenjata, perubahan iklim, hingga kebijakan imigrasi yang semakin ketat justru memaksa para migran mencari jalur alternatif yang lebih berisiko.
“Rute migrasi bergeser sebagai respons terhadap konflik. Kemudian, tekanan iklim, dan perubahan kebijakan, tetapi risikonya masih sangat nyata,” ujar Pope dilansir laman IOM.
Ia juga mengingatkan bahwa data statistik yang disajikan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai angka semata, melainkan representasi dari kisah manusia yang penuh penderitaan dan harapan.
“Di balik angka-angka ini terdapat orang-orang yang melakukan perjalanan berbahaya dan keluarga yang menunggu kabar yang mungkin tidak akan pernah datang,” katanya.
IOM mencatat, penurunan jumlah kedatangan migran di sejumlah kawasan dunia bukan berarti tekanan migrasi telah berkurang.
Kondisi tersebut lebih mencerminkan adanya perubahan jalur perjalanan akibat faktor kebijakan dan konflik yang terus berkembang.
Di kawasan Amerika, misalnya, arus migrasi ke arah utara melalui Amerika Tengah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.
Sementara itu, di Eropa, jumlah kedatangan migran juga tercatat menurun, tetapi komposisi asal migran mengalami perubahan, dengan warga Bangladesh menjadi kelompok terbesar yang tiba.
“Adapun di Tanduk Afrika, arus migrasi menuju Arab Saudi sedikit menurun, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan 2023. Sementara itu, pergerakan menuju Afrika Selatan justru meningkat di akhir tahun,” ucapnya menjelaskan.
Selain itu, IOM menyoroti kondisi ribuan migran yang terjebak di wilayah perbatasan dengan akses yang sangat terbatas terhadap kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, layanan kesehatan, serta perlindungan hukum.
Situasi ini memperlihatkan bahwa perjalanan migrasi semakin kompleks dan berbahaya.
IOM menegaskan bahwa perubahan rute tidak berarti risiko menjadi lebih kecil. Sebaliknya, perjalanan yang semakin panjang dan tidak pasti justru meningkatkan potensi kematian maupun hilangnya para migran di tengah perjalanan.
Menjelang pelaksanaan Forum Tinjauan Migrasi Internasional yang akan digelar pada Mei mendatang, IOM menyerukan perlunya komitmen global yang lebih kuat.
Upaya tersebut mencakup perlindungan terhadap para migran, pencegahan kematian di jalur migrasi, serta dukungan nyata bagi keluarga yang terdampak oleh tragedi ini.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]