“Di balik angka-angka ini terdapat orang-orang yang melakukan perjalanan berbahaya dan keluarga yang menunggu kabar yang mungkin tidak akan pernah datang,” katanya.
IOM mencatat, penurunan jumlah kedatangan migran di sejumlah kawasan dunia bukan berarti tekanan migrasi telah berkurang.
Baca Juga:
Lonjakan Harga Minyak Goreng Picu Kekhawatiran, DPR Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Kondisi tersebut lebih mencerminkan adanya perubahan jalur perjalanan akibat faktor kebijakan dan konflik yang terus berkembang.
Di kawasan Amerika, misalnya, arus migrasi ke arah utara melalui Amerika Tengah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.
Sementara itu, di Eropa, jumlah kedatangan migran juga tercatat menurun, tetapi komposisi asal migran mengalami perubahan, dengan warga Bangladesh menjadi kelompok terbesar yang tiba.
Baca Juga:
Kanada Soroti Peran Strategis Indonesia, ICA-CEPA Jadi Kunci Kemitraan Masa Depan
“Adapun di Tanduk Afrika, arus migrasi menuju Arab Saudi sedikit menurun, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan 2023. Sementara itu, pergerakan menuju Afrika Selatan justru meningkat di akhir tahun,” ucapnya menjelaskan.
Selain itu, IOM menyoroti kondisi ribuan migran yang terjebak di wilayah perbatasan dengan akses yang sangat terbatas terhadap kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, layanan kesehatan, serta perlindungan hukum.
Situasi ini memperlihatkan bahwa perjalanan migrasi semakin kompleks dan berbahaya.