WahanaNews.co | Mata dunia terpaku menatap Kabul.
Geram, ngeri, sedih, dan rasa ingin tahu yang sama besarnya menguasai benak masyarakat.
Baca Juga:
Ledakan di Masjid Afghanistan Telan 3 Korban Jiwa
Bagaimana sekarang nasib kota yang pernah masuk jajaran papan atas area urban dengan pertumbuhan tercepat itu?
Dari kisah yang dibagikan The New York Times selama akhir Agustus hingga kini, secuil wajah Kabul terlihat.
Sampai pekan kedua September ini, pemerintah lokal di kota terbesar di Afghanistan itu belum berfungsi.
Baca Juga:
Ledakan di Masjid Kabul Telan Korban Jiwa
Namun, pertokoan dan pasar mulai dibuka.
Di banyak sudut kota, pria-pria bersenjata mengawasi ekskavator membersihkan reruntuhan tembok sampai sisa mobil yang hangus terbakar dari tengah jalan.
Perubahan mencolok terlihat dari nyaris tidak ada perempuan berlalu-lalang sendiri.
Hanya dengan ditemani laki-laki muhrimnya, khususnya suami, ayah, atau saudara kandung laki-laki, seorang perempuan baru bisa ke pasar.
Iklan, poster, sampai gambar model perempuan harus ditutup atau diturunkan dari jalanan dan pajangan toko.
Warga laki-laki sedikit terhibur karena pertandingan kriket boleh digelar.
Namun, nasib mereka tetap tidak lebih baik. Ada beberapa foto antrean panjang warga laki-laki Kabul yang disinyalir demi mendapat bahan pangan.
Disebutkan ada banyak laki-laki dewasa maupun perempuan, yang dulunya aparatur sipil negara maupun pekerja swasta di berbagai bidang, bersembunyi atau berdiam di rumah.
Jika terlihat di ruang terbuka, mereka ketakukan akan ditunjuk sebagai oposisi dan terancam dihukum di hadapan penguasa sekarang.
Setidaknya sejak tahun 1970-an sampai setengah abad kemudian, Afghanistan memang tidak pernah benar-benar mengalami masa damai yang panjang.
Kabul sebagai kota utama selalu turut terdampak.
Meski demikian, Kabul juga saksi pelaku berbagai upaya kebangkitan warganya dari cobaan beruntun tersebut.
The Guardian pernah menyebut Kabul ”kota hantu” lantaran begitu hancur penuh puing berserakan di mana-mana usai dikuasai Taliban pertama kali pada pertengahan 1990-an hingga 2001.
Namun, pada 2014, kota ini ada di urutan kelima pemeringkatan kota-kota dunia yang tumbuh paling cepat.
Kemiskinan memang masih membelenggu sebagian besar penduduknya, tetapi Kabul sudah berubah pesat.
Kawasan permukiman dan tempat usaha bermunculan.
Kemacetan akibat banyaknya mobil di ruas-ruas akses utama menjadi pemandangan biasa.
Kabul optimistis dapat terus bergerak maju.
Optimistis itu memudar cepat ketika Taliban kembali bercokol.
Walakin, gegabah jika cepat memvonis inilah akhir dari Kabul dan Afghanistan.
Dari banyak sumber resmi, seperti Britannica, mari mulai mengenal liatnya kota yang muncul dan berkembang di tepian Sungai Kabul ini.
Jejak kawasan hunian manusia di sana ada sejak 3.500 tahun lalu.
Kota Kabul sendiri baru benar-benar meledak pertumbuhannya pada awal abad ke-20, ketika kawasannya meluas sampai ke bagian utara Sungai Kabul.
Sepanjang 1980-an, sebagai ekses perang tahun 1978-1992, kota ini kian riuh dan padat ketika semakin banyak orang dari berbagai penjuru Afghanistan mencari suaka di ibu kota yang terbilang lebih aman.
Kota ini juga telah menjadi saksi invasi AS pada 2001 sebagai reaksi atas serangan 11 September.
Bisa dibilang, meski menderita karena perang silih berganti yang melibatkan pihak-pihak di dalam negeri dan luar negeri, Kabul juga menjadi kota yang mendapat tambahan penduduk di tengah kekacauan negara yang tak berkesudahan.
Pada 2017, Britannica mencatat luas kota ini 1.030 kilometer persegi dengan populasi 3.961.500 jiwa.
Tiga Modal Regenerasi
Padanan Kabul dari sisi kondisinya yang terganggu adalah kota Homs dan Aleppo di Syria.
Menurut The Conversation, akibat konflik, 50 persen kawasan Homs rusak berat dan 22 persen rusak sebagian.
Dengan menanggung lebih dari 70 persen kawasannya rusak, Homs nyaris kolaps.
Merujuk buku The Resilient City: How Modern Cities Recover from Disaster oleh Lawrence J Vale dan Thomas J Campanella disebutkan, kota-kota selalu dapat sembuh dari trauma dan luka parah akibat bencana apa pun layaknya burung phoenix yang terbakar lantas menjelma menjadi burung serupa, yang justru semakin indah dan cantik.
”Kota-kota seperti Baghdad (Irak), Moskwa (Rusia), Aleppo, Mexico City (Mexico), dan Budapest (Hongaria) kehilangan 60-90 persen populasi mereka karena perang. Namun, mereka dibangun kembali dan akhirnya pulih,” kata Vale dan Campanella, seperti dikutip The Conversation.
Contoh lain yang tak mungkin dilupakan adalah Hiroshima dan Nagasaki yang luluh lantak akibat bom atom.
Tokyo di Jepang pernah nyaris rata akibat gempa bumi diikuti tsunami yang turut memicu kebakaran besar pada 1923.
Lebih dari 100.000 orang meninggal saat itu.
Kota tua cantik Dresden di Jerman pun jelmaan dari tumpukan puing pasca-Perang Dunia II.
Di masa lebih kini, ada Kathmandu di Nepal yang bangkit lagi setelah dihancurkan gempa bumi.
Kenyataannya, regenerasi kota-kota tak secepat kilat legenda burung phoenix.
Butuh proses panjang dan jalan berliku untuk mewujudkannya.
Selain itu, ada tiga hal mendasar yang diperlukan sebagai modal dasar paling penting bagi kota untuk bisa lahir kembali.
Ketiga hal tersebut, yaitu menggandeng erat komunitas lokal, menghargai dan menjadikan tradisi lokal sebagai nyawa kota, serta memelihara memori bencana, baik perang maupun gempa bumi dan lainnya.
Memori bencana menjadi sumber pelajaran dalam membangun dan mengelola kota sekaligus merekatkan semua komponen masyarakat.
Menggandeng komunitas lokal berarti menggamit semua lapisan masyarakat.
Hal ini berkaca dari fakta yang disuguhkan dari hasil riset-riset resmi, bahwa sebuah kota tidak pernah berdiri disokong satu kelompok masyarakat saja.
Kabul, misalnya, seperti ditulis Britannica, meskipun didominasi warga beragama Islam, sejak lama sudah ada kelompok pemeluk Sikh dan agama lain.
Di sana juga menjadi tempat tinggal berbagai suku, di antaranya Pasthun, Hazara, Tajik, Uzbek, dan Turk.
Setiap suku atau kelompok masyarakat memiliki tradisi berbeda yang mesti dihormati dan mendapat tempat untuk berekspresi di dalam ruang urban milik bersama.
Membangun kembali kota perlu menyiapkan tempat untuk saling bertemu dan rekonsiliasi antarwarga dari berbagai latar belakang.
Identitas kota baru buah regenerasi, jika ingin berhasil baik, adalah keberagaman dan kedamaian.
Taman dan monumen perang atau bencana menjadi rintisan proyek ruang publik yang cocok untuk kebutuhan menumbuhkan rasa saling memiliki, mengenal, dan menghormati.
Layanan dasar seperti pasokan bahan pokok, air bersih, listrik, sistem transportasi, dan jaminan untuk dapat berbisnis dengan aman akan membantu membangun pondasi ekonomi.
Dapatkah Kabul di era penguasa baru nanti mewujudkan regenerasi kota yang diidamkan berbagai kelompok warga di sana?
Semuanya masih serba belum pasti.
Namun, tanpa mengusung semangat kebersamaan dan keberagaman, sulit rasanya hal itu terwujud.
Di luar itu, faktanya sudah ratusan ribu bahkan jutaan orang Afghanistan mengungsi ke negara lain karena berseberangan ideologi dengan rezim penguasa anyar.
Di negeri seberang, tanpa disengaja, mereka menjadi duta-duta penerus tradisi dan budaya asal, tetapi minus sikap antiperbedaan.
Cepat atau lambat dengan proses yang tak mudah, bahkan mungkin menambah dalam luka-luka yang masih menganga, selalu ada peluang beradaptasi dan beregenerasi di tempat baru.
Suatu saat, para duta ini mungkin akan dapat ikut mewujudkan regenerasi Kabul baru yang lebih ideal bagi semua warganya, laksana legenda phoenix.
Semakin cantik dan indah. [dhn]
Artikel ini sudah tayang di Kompas.id dengan judul “Kabul dan Legenda Phoenix yang Bangkit dari Kehancuran”. Klik untuk baca: https://www.kompas.id/baca/metro/2021/09/11/kabul-dan-legenda-phoenix-yang-bangkit-dari-kehancuran/.