WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tragedi gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela kian memilukan setelah jumlah korban jiwa terus bertambah hingga menembus 4.000 orang, sementara ribuan lainnya masih belum ditemukan di tengah upaya pemulihan yang dibayangi krisis ekonomi berkepanjangan.
Pemerintah Venezuela kini berpacu dengan waktu untuk memulihkan wilayah terdampak, meski dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan kerusakan infrastruktur dalam skala besar.
Baca Juga:
KPK Sebut SK Bupati Sukoharjo Jadi Alat Pemerasan, Setoran Capai Rp2,93 Miliar
Ketua Parlemen Venezuela Jorge Rodriguez mengungkapkan, hingga Jumat (10/7/2026), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa ganda yang terjadi pada 24 Juni 2026 telah mencapai 4.118 orang, sementara 16.740 lainnya mengalami luka-luka dan ribuan warga masih dinyatakan hilang.
Bencana tersebut menjadi salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah modern Venezuela.
Laporan The Guardian menyebut dua gempa besar yang terjadi secara beruntun menghancurkan seluruh distrik di negara bagian pesisir La Guaira.
Baca Juga:
Babak Baru Kasus Febrie Adriansyah, Kejagung Resmi Ambil Alih 3 Perkara dari Polri
Gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 mengguncang wilayah tersebut, kemudian hanya berselang 39 detik disusul gempa kedua berkekuatan magnitudo 7,5.
Gempa kedua itu tercatat sebagai yang terbesar melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad terakhir dan menyebabkan blok-blok apartemen bertingkat tinggi runtuh hingga rata dengan tanah.
Meski operasi pencarian korban selamat secara resmi telah dihentikan, banyak keluarga korban masih bertahan di sekitar lokasi reruntuhan demi mencari anggota keluarga yang belum ditemukan.
Harapan mereka kini bukan lagi menemukan korban dalam keadaan hidup, melainkan membawa pulang jenazah orang-orang tercinta untuk dimakamkan secara layak.
Kondisi psikologis masyarakat juga masih sangat rentan akibat rentetan bencana yang terus membayangi.
Pada Jumat (10/7/2026), gempa susulan bermagnitudo 3,0 yang mengguncang pusat Kota Caracas sempat memicu kepanikan warga dan menyebabkan sejumlah gedung dievakuasi.
Skala kerusakan yang harus dipulihkan disebut sangat besar karena Venezuela masih bergulat dengan krisis ekonomi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Layanan publik di berbagai sektor dilaporkan mengalami penurunan kapasitas sehingga memperlambat proses pemulihan pascabencana.
Berdasarkan estimasi Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengurangan Risiko Bencana, kerusakan fisik pada sektor perumahan dan infrastruktur diperkirakan mencapai sekitar 37 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp668,78 triliun.
Untuk mempercepat penanganan darurat, PBB pada Rabu (8/7/2026) meluncurkan seruan internasional guna menggalang bantuan hampir 300 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp5,42 triliun.
Dana tersebut ditujukan untuk membantu sekitar 1,3 juta warga Venezuela yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Di tengah upaya tersebut, dapur umum, klinik bergerak, serta rumah sakit lapangan mulai beroperasi di berbagai ruang publik di negara bagian La Guaira yang menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah.
Sementara itu, Presiden Interim Venezuela Delcy RodrÃguez menyerukan agar aset-aset negara yang selama ini dibekukan di luar negeri dapat digunakan untuk membiayai rekonstruksi pascabencana.
Pada Rabu (8/7/2026), Delcy secara khusus meminta Raja Charles III agar melepaskan sekitar 30 ton cadangan emas milik Venezuela yang saat ini masih dibekukan di bawah rezim sanksi Inggris.
Delcy juga membela langkah pemerintah dalam menangani keadaan darurat akibat gempa dan menegaskan bencana tersebut tidak akan menyeret Venezuela ke dalam kekacauan sosial.
Meski demikian, gelombang protes tetap bermunculan di sejumlah daerah.
Sejumlah warga menilai respons pemerintah yang didukung Amerika Serikat terhadap penanganan awal bencana berjalan lambat, terutama sebelum bantuan internasional mulai berdatangan ke wilayah terdampak.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]