WAHANANEWS.CO, Jakarta - Krisis geopolitik di Timur Tengah mulai mengguncang konsumsi energi dunia setelah Badan Energi Internasional atau International Energy Agency mengungkap permintaan minyak global kini mengalami perlambatan di tengah melonjaknya harga energi dan terganggunya distribusi minyak dunia.
Kondisi tersebut dipicu memanasnya konflik di kawasan Teluk Persia yang membuat jalur distribusi energi global semakin tertekan dan memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan minyak serta gas dunia.
Baca Juga:
Heboh 4,9 Juta Data Nasabah BCA Dikabarkan Bocor di Dark Web, Ini Fakta Sebenarnya
“Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun, jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas,” kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam acara yang digelar Chatham House pada Kamis (21/5/2026).
IEA menilai ancaman terhadap pasar energi global bisa semakin membesar apabila Selat Hormuz belum juga kembali dibuka secara normal dalam beberapa pekan mendatang.
Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak mentah dan gas alam cair atau LNG dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional sehingga gangguan di wilayah itu langsung berdampak terhadap rantai pasok energi dunia.
Baca Juga:
Pigai Tolak Begal Ditembak Mati, Sahroni Langsung Bereaksi Keras
Menurut Birol, tekanan terhadap pasar energi diperkirakan akan semakin berat memasuki musim panas ketika konsumsi bahan bakar global biasanya meningkat akibat lonjakan aktivitas perjalanan dan liburan di berbagai negara.
“Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak, akibatnya stok minyak menipis, sementara tidak ada pasokan minyak baru yang keluar dari Timur Tengah,” ujar Birol.
IEA mencatat pasar energi global saat ini kehilangan sekitar 14 juta barel pasokan minyak per hari akibat terganggunya distribusi dan produksi di kawasan Timur Tengah.