Jumlah tersebut bahkan disebut lebih besar dibandingkan krisis minyak pada era 1970-an yang kala itu menyebabkan gangguan pasokan sekitar 10 juta barel minyak per hari.
Selain minyak bumi, tekanan juga terjadi pada pasokan gas dunia setelah lebih dari 130 miliar meter kubik gas dilaporkan hilang dari pasar global akibat eskalasi konflik dan terganggunya distribusi energi.
Baca Juga:
Heboh 4,9 Juta Data Nasabah BCA Dikabarkan Bocor di Dark Web, Ini Fakta Sebenarnya
Meski kondisi pasar sempat tertolong oleh cadangan minyak yang tinggi dan pelepasan stok darurat negara-negara anggota IEA, lembaga itu mengingatkan bantalan pasokan kini mulai menipis.
Sejumlah negara bahkan mulai menerapkan langkah penghematan energi guna menjaga stabilitas pasokan domestik di tengah ancaman krisis energi berkepanjangan.
“Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” kata Birol.
Baca Juga:
Pigai Tolak Begal Ditembak Mati, Sahroni Langsung Bereaksi Keras
Krisis energi global kembali memanas setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk Persia yang berdampak terhadap kenaikan harga minyak, LNG, hingga biaya logistik dan industri di berbagai negara.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.