WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nasib perusahaan kecerdasan buatan Anthropic mendadak terpuruk setelah bersitegang dengan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump, yang kini memasukkan perusahaan tersebut ke daftar hitam risiko rantai pasok meski sebelumnya menjadi pemasok teknologi AI untuk kebutuhan militer.
Keputusan tersebut memicu langkah hukum dari perusahaan teknologi itu yang kini berusaha menggugat kebijakan Pentagon yang dinilai dapat menghancurkan bisnis mereka.
Baca Juga:
Perang Iran Bisa Panjang, Sejarah Romawi-Persia 600 Tahun Jadi Peringatan Dunia
Pada Rabu (11/3/2026), Anthropic mengajukan permohonan penangguhan kepada pengadilan banding Amerika Serikat setelah Pentagon secara resmi menetapkan perusahaan itu sebagai risiko dalam rantai pasokan teknologi militer.
Langkah hukum tersebut diajukan sambil menunggu proses peninjauan yudisial atas keputusan pemerintah yang berpotensi menghentikan kontrak besar antara Anthropic dan berbagai lembaga federal.
Anthropic secara terbuka mengakui bahwa status sebagai risiko rantai pasokan dapat memicu kerugian finansial yang sangat besar bagi perusahaan.
Baca Juga:
Iran Siap Perang Panjang! Ancaman Teheran Disebut Bisa Hancurkan Ekonomi Dunia
"Menurut perkiraan terbaik Anthropic, untuk tahun 2026, tindakan merugikan pemerintah berisiko menyebabkan kerugian pendapatan ratusan juta, atau bahkan miliaran, dolar," tulis pengacara Anthropic dalam dokumen pengajuan pengadilan.
Konflik antara perusahaan AI tersebut dengan Pentagon bermula dari perbedaan pandangan mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk kepentingan militer.
Anthropic menolak keras jika teknologi AI yang mereka kembangkan digunakan untuk menciptakan senjata otonom atau untuk kegiatan pengawasan terhadap warga Amerika Serikat.
Sikap tersebut justru memicu ketegangan dengan pemerintah Amerika Serikat yang menganggap pembatasan itu dapat menghambat operasi militer.
Pentagon menilai teknologi AI buatan Anthropic seharusnya dapat digunakan secara luas selama masih berada dalam koridor hukum.
Perselisihan tersebut bahkan memicu kemarahan Presiden Donald Trump yang secara terbuka menyerang perusahaan tersebut.
Trump menyebut Anthropic sebagai perusahaan sayap kiri yang terjebak dalam budaya politik “woke” dan dianggap membahayakan keselamatan warga Amerika.
Presiden Amerika Serikat itu juga menegaskan bahwa militer tidak boleh didikte oleh perusahaan teknologi mengenai cara berperang.
Trump menyatakan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan perusahaan mana pun menentukan strategi tempur militer Amerika Serikat dalam menghadapi konflik global.
Padahal sebelumnya Anthropic diketahui memperoleh kontrak besar dari pemerintah Amerika Serikat senilai sekitar 200 miliar dolar AS pada tahun 2025 untuk penyediaan teknologi kecerdasan buatan.
Anthropic menegaskan bahwa mereka hanya bersedia jika teknologinya digunakan untuk sistem pertahanan militer, bukan untuk pengembangan senjata otonom yang dapat beroperasi tanpa kendali manusia.
Akibat perbedaan sikap tersebut, pemerintahan Trump kemudian melarang lembaga-lembaga federal menggunakan teknologi AI milik Anthropic.
Namun kebijakan tersebut tidak langsung diberlakukan secara penuh karena Pentagon masih memberikan masa transisi bagi sejumlah proyek yang sudah berjalan.
Menurut memo internal yang dilaporkan media internasional, penggunaan teknologi Anthropic masih diizinkan selama enam bulan untuk kebutuhan yang dianggap mendesak.
Dalam masa transisi tersebut, beberapa sistem AI milik perusahaan itu dilaporkan masih digunakan dalam operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Laporan media menyebutkan bahwa teknologi AI Anthropic bahkan masih digunakan dalam konflik militer melawan Iran hanya beberapa jam setelah larangan dari Trump diumumkan.
Pentagon menolak memberikan komentar terkait proses litigasi yang saat ini sedang berlangsung di pengadilan.
Secara terpisah, Anthropic juga mengajukan gugatan hukum ke pengadilan federal di California untuk menantang keputusan Pentagon yang memasukkan mereka ke daftar hitam rantai pasokan.
Dalam dokumen yang diajukan ke Pengadilan Banding Amerika Serikat untuk Distrik Columbia Circuit pada Rabu (11/3/2026), perusahaan tersebut menegaskan bahwa kebijakan pemerintah dapat menimbulkan kerugian yang tidak dapat dipulihkan.
Menurut pengajuan hukum tersebut, lebih dari 100 pelanggan Anthropic telah menghubungi perusahaan untuk meminta klarifikasi mengenai status mereka setelah dimasukkan ke daftar risiko rantai pasokan oleh Pentagon.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]