WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik kembali merembet ke panggung sepak bola dunia saat momen simbolik di Kongres FIFA ke-76 berubah canggung setelah delegasi Palestina menolak bersalaman dan berfoto dengan perwakilan Israel pada Kamis (30/4/2026).
Insiden itu terjadi di Vancouver, Kanada, ketika Presiden Federasi Sepak Bola Palestina Jibril Rajoub secara terbuka menolak ajakan sesi foto bersama pejabat sepak bola Israel Basim Sheikh Suliman usai keduanya menyampaikan pidato.
Baca Juga:
Sambut Piala Dunia 2026, New York Gelar Fan Zone Gratis untuk Semua Warga
Situasi tersebut bermula ketika Presiden FIFA Gianni Infantino mengundang kedua pihak untuk berdiri berdampingan dalam sesi dokumentasi resmi penutupan kongres.
Namun, Rajoub memilih tetap di tempatnya dan tidak merespons ajakan tersebut, meskipun Infantino beberapa kali mencoba membujuknya untuk ikut serta.
“Kami sedang menderita.”
Baca Juga:
Piala Dunia 2026 Hadirkan Konsep Baru dengan Tiga Maskot Ikonik
Penolakan itu bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari sikap politik yang telah lama disuarakan Federasi Sepak Bola Palestina terhadap kebijakan FIFA terkait Israel.
Federasi Palestina sebelumnya telah mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS) atas keputusan FIFA yang tidak menjatuhkan sanksi kepada Israel, khususnya terkait keberadaan klub-klub yang berbasis di wilayah Tepi Barat.
Menurut pihak Palestina, klub-klub tersebut tidak seharusnya berkompetisi dalam liga yang berada di bawah otoritas sepak bola Israel karena beroperasi di wilayah yang disengketakan.
Isu ini bahkan mendapat sorotan komunitas internasional setelah sejumlah ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 mengidentifikasi setidaknya delapan klub yang beroperasi di wilayah yang disebut sebagai permukiman kolonial Israel.
Para ahli tersebut juga mendesak FIFA untuk menjalankan tanggung jawabnya dalam menghormati prinsip hak asasi manusia dalam tata kelola sepak bola global.
Dalam konferensi pers usai kongres, Rajoub kembali menyuarakan sikap kerasnya terhadap kondisi yang terjadi di Palestina dan respons FIFA.
“Apa yang terjadi di Palestina sangat mengerikan, menghancurkan semua fasilitas olahraga Palestina di Gaza, serta menewaskan ratusan atlet dan pekerja.”
Ia menilai situasi tersebut tidak bisa lagi diabaikan oleh otoritas sepak bola dunia yang selama ini mengedepankan nilai persatuan.
“Saya pikir sekarang adalah waktunya untuk menegakkan keadilan.”
Rajoub juga menyindir pernyataan perwakilan Israel yang dinilai tidak mencerminkan empati terhadap penderitaan yang terjadi.
“Orang yang berbicara mewakili Israel bahkan tidak memperhatikan penderitaan yang terjadi.”
Ketegangan semakin terlihat jelas saat ia menegaskan alasannya menolak interaksi simbolik dengan delegasi Israel.
“Saya menolak berjabat tangan, bagaimana saya bisa berjabat tangan atau berfoto dengan orang seperti itu?”
Di tengah situasi tersebut, Kongres FIFA juga dimanfaatkan Infantino untuk memastikan bahwa Timnas Iran tetap akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026, termasuk bermain di Amerika Serikat.
"Tentu saja, Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026, dan tentu saja Iran akan bermain di Amerika Serikat."
Ia menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari misi besar FIFA untuk menyatukan dunia melalui sepak bola di tengah konflik global yang terus berlangsung.
"Alasannya sangat sederhana, teman-teman sekalian, karena kita harus bersatu."
Menurut Infantino, sepak bola memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan di tengah perpecahan yang terjadi di berbagai belahan dunia.
"Itu adalah tanggung jawab saya."
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]