Kapal tersebut membawa dua kendaraan bawah laut otonom atau autonomous underwater vehicle (AUV) yang dirancang untuk menyisir dasar laut secara detail.
Sebelum memasuki zona pencarian, seluruh persiapan operasi dilakukan dari Pelabuhan Fremantle di Australia Barat.
Baca Juga:
Lebih 50 Tahun Orbit Pesawat Antariksa Soviet Jatuh di RI, Disebut Objek Berbahaya
Namun hingga kini, lokasi pasti area pencarian masih dirahasiakan oleh pihak terkait dengan alasan strategis.
Ocean Infinity menegaskan bahwa misi ini dijalankan dengan skema kontrak no find, no fee, yang berarti perusahaan hanya akan menerima pembayaran jika berhasil menemukan puing-puing pesawat.
Nilai kontrak tersebut mencapai 70 juta dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp 1,1 triliun apabila bangkai MH370 berhasil ditemukan.
Baca Juga:
Penumpang Ancam Ledakkan Pesawat, Malaysia Airlines Putar Balik ke Sidney
Sebelumnya, Ocean Infinity juga sempat melakukan pencarian independen pada 2018, namun operasi tersebut tidak membuahkan hasil.
Meski gagal saat itu, CEO Ocean Infinity Oliver Plunkett menyatakan pada 2025 bahwa perusahaannya bekerja sama dengan sejumlah pakar untuk mempersempit area pencarian ke titik yang dinilai paling mungkin menjadi lokasi jatuhnya pesawat.
Pada awal 2025, Ocean Infinity sempat mengerahkan armada untuk menjelajahi area baru seluas 15.000 kilometer persegi di Samudera Hindia.