WAHANANEWS.CO, Jakarta - Jatuhnya Nicolas Maduro dari puncak kekuasaan Venezuela kian diyakini bukan semata akibat tekanan Amerika Serikat, melainkan hasil manuver senyap dari lingkaran elite Caracas yang merancang transisi dari dalam.
Indikasi tersebut menguat setelah terungkap adanya pertemuan tertutup di luar negeri yang membahas masa depan Venezuela tanpa kehadiran Maduro.
Baca Juga:
Trump Incar Greenland, Eropa Merapat dan Pasang Badan Bela Denmark
Dalam pusaran dinamika ini, Wakil Presiden Delcy Rodriguez mencuat sebagai figur kunci yang disebut memimpin arah transisi kekuasaan.
Sejumlah pejabat Venezuela dilaporkan menggelar pembicaraan rahasia di Doha, Qatar, untuk mendiskusikan skema pemerintahan pasca-Maduro.
Pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Maduro, sementara Delcy Rodriguez bersama saudaranya, Jorge Rodriguez, justru tampil memimpin dialog lintas kepentingan.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Seorang anggota senior keluarga kerajaan Uni Emirat Arab disebut berperan sebagai perantara antara elite Venezuela dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah meningkatnya tekanan militer Washington terhadap Caracas.
Menurut laporan media Amerika, Delcy Rodriguez secara langsung menjalin komunikasi dengan pihak AS dan memosisikan diri sebagai figur yang dinilai lebih dapat diterima untuk memimpin Venezuela dibandingkan Maduro.
Langkah tersebut memicu spekulasi luas bahwa perubahan kekuasaan telah disiapkan dari dalam rezim, bukan semata dipaksakan oleh tekanan eksternal.
Rangkaian informasi yang mengemuka sejak Oktober menggambarkan skenario pergantian kepemimpinan yang tetap mempertahankan struktur kekuasaan lama.
Konsep itu disebut sebagai Madurismo tanpa Maduro, yakni kelanjutan rezim dengan wajah baru agar transisi berlangsung tanpa gejolak besar, kerusuhan, atau pembongkaran total sistem negara.
Pada Sabtu (3/1/2026), Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola Venezuela melalui pemerintahan transisi yang dipimpin Delcy Rodriguez, sembari menyiapkan masuknya perusahaan minyak Amerika.
“Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali besar,” ujar Trump kepada wartawan.
Pernyataan tersebut merujuk pada Delcy Rodriguez yang sebelumnya pernah dikenai sanksi Amerika Serikat atas perannya dalam melemahkan demokrasi Venezuela.
Isu keterlibatan orang dalam semakin menguat setelah pernyataan mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon.
Pada Minggu (4/1/2026), Santos menyebut penyingkiran Maduro sebagai operasi internal yang melibatkan Delcy Rodriguez.
Ia mengaku sangat yakin bahwa Maduro dibiarkan ditangkap oleh Amerika Serikat tanpa perlawanan berarti.
“Mereka tidak menyingkirkannya, mereka menyerahkannya,” kata Santos.
“Saya benar-benar yakin Delcy Rodriguez menyerahkannya,” ujarnya lagi.
Santos menegaskan bahwa seluruh informasi yang ia miliki, jika dirangkai, menunjukkan operasi tersebut dirancang untuk menyerahkan Maduro.
Ia juga menyebut Trump telah menunjuk Delcy Rodriguez sebagai pemimpin pemerintahan transisi Venezuela.
“Dia sangat jelas tentang peran yang akan dimainkannya dan dia akan berusaha mendapatkan sedikit kemandirian,” kata Santos.
Delcy Rodriguez, 56 tahun, merupakan seorang pengacara dengan kedekatan kuat pada sektor minyak yang telah lama menjadi tulang punggung ekonomi Venezuela.
Ia menjabat sebagai wakil presiden sejak 2018 dan telah menjadi bagian dari lingkar kekuasaan sejak Hugo Chavez terpilih pada 1999.
Rekam jejaknya mencakup jabatan menteri luar negeri, ketua majelis konstituante, serta menteri minyak dan keuangan.
Pakar Amerika Latin dari Atlantic Council, Geoff Ramsey, menilai Delcy mampu mempertahankan citra kiri ideologis sekaligus menjadi wajah liberalisasi ekonomi relatif.
Kebijakan tersebut dinilai membantu Venezuela keluar dari krisis ekonomi parah hingga 2021, ketika ekonomi negara itu menyusut hingga tiga perempat dan hampir delapan juta warga meninggalkan tanah air.
Capaian itu membuat Delcy memperoleh dukungan dari sebagian kalangan bisnis yang dekat dengan pemerintah.
“Mereka mulai melihatnya sebagai figur yang dapat diprediksi dan efektif,” ujar analis risiko politik Venezuela, Pedro Garmendia.
Latar belakang keluarga Delcy Rodriguez juga memberi pengaruh besar dalam dinamika politik internal Venezuela.
Ayahnya dikenal sebagai tokoh revolusioner yang pernah memimpin operasi penculikan seorang pengusaha Amerika dalam jaringan gerilya komunis.
Sementara itu, saudaranya Jorge Rodriguez kini menjabat ketua parlemen dan menjadi aktor penting dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
“Delcy dan Jorge adalah duo kuat dalam rezim,” kata Garmendia.
“Keduanya belajar bertahan dan berkembang di bawah tekanan dan sanksi Amerika Serikat,” ujarnya.
Meski demikian, Ramsey mengingatkan bahwa Delcy menghadapi tantangan besar untuk menjaga koalisi internal dan menghindari cap sebagai boneka Amerika.
“Menjaga semua pihak tetap bersatu tidak akan mudah,” kata Ramsey.
Ia menilai sejauh ini Delcy tampak mampu mengelola situasi, meskipun tidak semua faksi diyakini berjalan seiring.
Trump menyatakan tidak akan mengirim pasukan ke Venezuela selama Delcy Rodriguez memenuhi kepentingan Amerika Serikat.
Namun, arah kebijakan Washington terhadap pemerintahan transisi tersebut dinilai masih belum sepenuhnya jelas.
Pejabat Amerika Serikat menegaskan bahwa hubungan bilateral akan sangat bergantung pada sejauh mana kepentingan Washington diakomodasi, sembari mengingatkan opsi militer tetap terbuka.
Di sisi lain, Delcy Rodriguez muncul di televisi pemerintah dengan sikap menantang dan menuntut pembebasan segera Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores.
Pada saat yang sama, Trump disebut telah menyingkirkan pemimpin oposisi Maria Corina Machado dengan alasan minimnya dukungan, terutama dari militer.
Situasi ini memperkuat anggapan bahwa perubahan kekuasaan di Venezuela lebih ditentukan oleh kompromi elite dan manuver orang dalam ketimbang kemenangan oposisi atau gelombang revolusi rakyat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]