WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Joseph Aoun menegaskan komitmennya untuk menjaga kedaulatan dan kebebasan nasional di tengah dinamika konflik kawasan yang belum sepenuhnya mereda.
Ia menekankan bahwa Lebanon tidak boleh lagi menjadi ajang pertarungan kepentingan pihak luar, sekaligus meneguhkan arah kebijakan pemerintahannya yang berfokus pada stabilitas dan perdamaian jangka panjang.
Baca Juga:
Trump Tuduh Iran Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata: Deal atau Hancur!
Mengutip laporan Al Jazeera pada Sabtu, 18 April 2026, pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato resmi yang disiarkan melalui televisi nasional.
Dalam pidato itu, Aoun menegaskan bahwa negaranya tidak akan kembali dijadikan alat dalam konflik asing yang berpotensi merusak stabilitas domestik.
Pidato tersebut muncul sehari setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Lebanon dan Israel.
Baca Juga:
Pasukan Perdamaian Diserang, PBB Desak Penghormatan Gencatan Senjata
Kesepakatan ini memberikan jeda dari rangkaian serangan militer Israel yang telah berlangsung sejak 2 Maret dan memicu eskalasi ketegangan di kawasan.
Konflik berkepanjangan itu telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Lebih dari 2.200 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke wilayah yang lebih aman.
Dalam konteks ini, Aoun menyatakan bahwa Lebanon kini memasuki fase penting, yakni transisi dari upaya penghentian sementara konflik menuju perundingan damai yang bersifat permanen.
Ia menegaskan bahwa setiap perjanjian yang dihasilkan nantinya harus menjamin perlindungan hak-hak rakyat, menjaga keutuhan wilayah, serta memperkuat kedaulatan negara.
Dalam kesempatan yang sama, Aoun juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak internasional yang telah berkontribusi dalam meredakan ketegangan dan mendorong terciptanya gencatan senjata.
Lebih lanjut, Aoun menekankan bahwa tidak ada satu pun kesepakatan yang akan mengorbankan wilayah Lebanon.
Ia juga menegaskan bahwa proses negosiasi yang tengah berlangsung bukanlah bentuk kelemahan ataupun konsesi politik, melainkan langkah strategis untuk mencapai stabilitas dan perdamaian yang berkelanjutan.
Gencatan senjata ini sendiri tercapai setelah Lebanon dan Israel menggelar pembicaraan langsung pertama mereka dalam beberapa dekade di Washington, D.C..
Meski demikian, langkah tersebut tidak sepenuhnya diterima positif oleh seluruh kalangan, karena sebagian masyarakat Lebanon masih meragukan efektivitas dan keberlanjutannya.
Aoun kembali menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya adalah menghentikan agresi Israel secara menyeluruh.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memastikan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon serta memperluas kontrol pemerintah pusat atas seluruh teritori negara.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]