"Mossad jarang hanya mengandalkan agennya sendiri. Mereka sering menggunakan proksi asing untuk menyusup ke negara-negara ini," ujarnya.
Selain infiltrasi manusia, intelijen Israel juga disebut meretas kamera lalu lintas di Teheran untuk memetakan pola pergerakan pengawal Khamenei. Menara telepon seluler di sekitar lokasi bahkan dilaporkan sempat diganggu sesaat sebelum serangan untuk mencegah pengawal menerima peringatan.
Baca Juga:
Mossad Terlalu Optimis, Realita Perang Iran Tak Sesuai Harapan
Risiko Konflik Berkepanjangan
Meski operasi "pemenggalan kepemimpinan" tersebut dinilai berhasil secara taktis, sejumlah analis memperingatkan strategi ini belum tentu memberikan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Abu Amer mengatakan serangan terhadap Iran yang diklaim akan meningkatkan keamanan Israel justru berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
"Netanyahu mengeklaim serangan terhadap Iran akan mengamankan Israel untuk generasi mendatang. Namun beberapa bulan kemudian kawasan kembali dilanda perang," ujarnya.
Ia menilai pendekatan yang bertumpu pada pembunuhan target bernilai tinggi hanya memberi keuntungan sementara.
"Mengandalkan pembunuhan intelijen tidak mengubah realitas strategis yang lebih luas; itu hanya memberi jeda sementara sambil menyeret Israel ke konflik yang tidak dapat diatasi sendiri," kata Abu Amer.