"Ini bukan hanya upaya intelijen Israel semata, tetapi juga kolaborasi dengan badan internasional, termasuk CIA dan badan intelijen luar negeri Inggris, MI6," ujar Abu Amer, seperti dikutip Al Jazeera.
Menurutnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan keberhasilan operasi tersebut untuk kepentingan politik domestik.
Baca Juga:
Mossad Terlalu Optimis, Realita Perang Iran Tak Sesuai Harapan
"Netanyahu memanfaatkan ini untuk menampilkan kemenangan politik pribadi kepada publiknya, bahwa ia berhasil menyeret presiden AS ke dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran," kata Abu Amer.
Infiltrasi dan Celah Keamanan
Selain dukungan intelijen Barat, keberhasilan sejumlah operasi Israel juga dinilai memanfaatkan kelemahan internal aparat keamanan di negara target.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, pada Juli 2024 di sebuah wisma tamu milik Garda Revolusi Iran di Teheran misalnya disebut terjadi akibat infiltrasi agen rahasia. Perangkat peledak diduga telah diselundupkan ke ruangan tersebut beberapa bulan sebelum kedatangannya, yang menunjukkan adanya kolaborator lokal.
Menurut Abu Amer, Mossad juga kerap menggunakan proksi asing atau individu berkewarganegaraan ganda untuk menyusup ke negara target tanpa menimbulkan kecurigaan.