"China bisa saja menahan kapal-kapal ini di pelabuhan, memberlakukan penundaan administratif, menciptakan penahanan bea cukai-sejumlah alat birokrasi apa pun, tetapi tidak dilakukan," ujarnya.
Aktivitas pelayaran ini menjadi sorotan karena kedua kapal tersebut dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL), entitas yang telah dijatuhi sanksi oleh AS, Inggris, dan Uni Eropa. Sejak awal tahun, setidaknya belasan kapal IRISL lainnya tercatat telah mengunjungi Pelabuhan Gaolan, dengan data sarat kapal menunjukkan sebagian besar berangkat dengan muatan penuh menuju terminal peti kemas utama Iran.
Baca Juga:
Langit Teheran Gelap Total, “Hujan Hitam” Beracun Turun Usai Depot Minyak Dihantam Israel
Langkah ini juga dipandang sebagai respon cepat Teheran setelah serangan udara AS dan Israel yang menyasar infrastruktur militer Iran baru-baru ini. Kerusakan pada fasilitas domestik tersebut diyakini telah memicu urgensi Iran untuk mengamankan pasokan luar negeri guna memulihkan kemampuan tempur mereka.
"Kebutuhan Teheran akan prekursor propelan baru saja berubah dari mendesak menjadi eksistensial," pungkas Kardon.
Sebagai informasi, Amerika sebelumnya telah memberlakukan sanksi yang menyasar transfer natrium perklorat dari China ke Iran senilai jutaan dolar, atau setara dengan US$ 10 juta (Rp 199,76 miliar). Washington menuduh material tersebut digunakan untuk memproduksi amonium perklorat, komponen inti dalam bahan bakar rudal balistik.
Baca Juga:
Akademisi Nilai Pernyataan Trump soal Iran Hanya Retorika Politik
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.