WAHANANEWS.CO, Jakarta - Prancis seperti masuk oven raksasa setelah gelombang panas ekstrem memaksa pemerintah menetapkan siaga merah tertinggi di 35 wilayah pada Minggu (21/6/2026).
Status darurat itu diberlakukan setelah otoritas meteorologi memperingatkan suhu udara di sejumlah daerah berpotensi mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah Prancis.
Baca Juga:
MK Soroti Kuota Internet Hangus, Operator Seluler Harus Buktikan Komitmen Rollover
Melansir laporan media lokal RTL, sebanyak 45 wilayah lainnya juga ditempatkan dalam status siaga oranye karena suhu panas terus meluas di berbagai kawasan.
Badan cuaca nasional Meteo-France melaporkan suhu lokal telah menyentuh 41 derajat Celsius pada Minggu (21/6/2026) siang.
Suhu tersebut diperkirakan semakin membara pada awal pekan, terutama di wilayah yang masuk zona merah.
Baca Juga:
Trump Mulai Jengkel ke Netanyahu, Sebut Israel Bisa Gagalkan Damai AS-Iran
Otoritas Prancis memperkirakan suhu rata-rata nasional kali ini dapat menyamai rekor harian tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Di daerah berstatus siaga merah, suhu udara diproyeksikan bergerak di kisaran 40 hingga 42 derajat Celsius.
Gelombang panas akut itu diperkirakan bertahan setidaknya hingga Kamis (25/6/2026).
Kondisi ekstrem tersebut terjadi ketika masyarakat Prancis bersiap merayakan festival musik tahunan Fete de la Musique pada Minggu (21/6/2026) malam.
Pemerintah pusat langsung mengambil sejumlah langkah darurat untuk menekan risiko korban jiwa di ruang publik.
Konsumsi minuman beralkohol di tempat umum resmi dilarang di seluruh wilayah yang masuk status siaga merah.
Larangan itu diberlakukan untuk mencegah risiko dehidrasi massal di tengah suhu udara yang sangat tinggi.
Di Paris, kepolisian memperketat pengamanan dengan menambah patroli sungai untuk mencegah warga berenang secara nekat di tengah cuaca ekstrem.
Aparat juga melarang kerumunan tanpa izin di sepanjang bantaran Sungai Seine.
Sebanyak 4.800 personel kepolisian dan polisi militer dikerahkan di kawasan metropolitan Paris.
Mereka bersinergi dengan 2.500 petugas pemadam kebakaran yang disiagakan penuh untuk menghadapi kemungkinan insiden darurat.
Situasi di lapangan mulai memakan korban setelah sejumlah warga dilaporkan tewas akibat tenggelam ketika mencoba mendinginkan diri di sungai dan pantai.
Layanan darurat Prancis mengonfirmasi seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun tewas terseret arus di Sungai Dordogne pada Sabtu (20/6/2026) malam.
Pada hari yang sama, seorang remaja berusia 16 tahun juga dilaporkan tenggelam di Pantai Dunkirk.
Dua remaja lainnya ditemukan tewas setelah terseret arus di Sungai Doubs pada Jumat (19/6/2026).
Selain mengancam keselamatan jiwa, suhu panas dan udara kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan secara signifikan.
Meteo-France telah menempatkan empat wilayah dalam status bahaya kebakaran pada Minggu (21/6/2026).
Jumlah wilayah berisiko kebakaran diperkirakan naik menjadi 11 pada Senin (22/6/2026) seiring meluasnya kekeringan.
Sektor transportasi massal ikut terguncang oleh cuaca ekstrem tersebut.
Operator kereta api nasional Prancis, SNCF, langsung mengaktifkan protokol darurat untuk menjaga layanan transportasi tetap berjalan.
“Kami sepenuhnya siap untuk menghadapi peristiwa ini dan memastikan lalu lintas tetap senormal mungkin dalam kondisi ekstrem ini,” tegas Kepala Eksekutif SNCF, Jean Castex.
Meski protokol darurat sudah diaktifkan, kritik terhadap kesiapan infrastruktur transportasi tetap mencuat dari dalam pemerintahan.
Menteri Transportasi Prancis Philippe Tabarot mengakui jaringan rel dan kereta api milik negara sudah berada dalam kondisi menua.
Kepada BFMTV, Tabarot mendesak adanya tambahan investasi untuk mempercepat peremajaan infrastruktur transportasi.
Menurut Tabarot, mitigasi memang telah disiapkan, tetapi gelombang panas tahun ini datang jauh lebih awal dari siklus biasanya.
Kondisi itu membuat pemerintah harus mengambil kebijakan pengetatan yang ekstrem untuk mencegah layanan publik mengalami tekanan besar.
Langkah darurat juga dianggap penting agar fasilitas kesehatan dan rumah sakit tidak lumpuh akibat lonjakan pasien yang tumbang karena kepanasan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]