Meski demikian, gelombang protes tidak surut. Aksi demonstrasi tetap berlanjut bahkan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan peringatan keras kepada para pengunjuk rasa.
Runtuhnya nilai tukar mata uang rial disebut menjadi pemicu utama krisis ekonomi yang kian meluas di negara tersebut, sebagaimana dilansir AP News, Sabtu (10/1/2026).
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Kondisi ekonomi diperparah oleh lonjakan harga kebutuhan pokok, termasuk daging dan beras, serta tingkat inflasi tahunan yang mencapai sekitar 40 persen.
Pada Desember lalu, pemerintah juga menaikkan harga bensin bersubsidi, kebijakan yang dinilai semakin memberatkan kehidupan masyarakat.
Aksi protes awalnya dipicu oleh keluhan para pedagang di Teheran, namun dengan cepat menyebar ke berbagai daerah.
Baca Juga:
Ketegangan di Timur Tengah Trump Beri Peringatan Keras, Iran Siaga Tempur Level Tertinggi
Seiring waktu, tuntutan ekonomi berkembang menjadi seruan yang lebih luas, termasuk kritik dan penolakan terhadap pemerintah.
Sebagian demonstran bahkan menyuarakan dukungan terhadap Putra Mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi.
Pada saat yang sama, negara-negara Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan program nuklir Iran yang dituding semakin mendekati kemampuan pembuatan senjata nuklir.