"Saya berharap mereka mencapai perjanjian yang nyata kali ini sehingga bisa membuat kami memiliki kehidupan dan bisnis yang normal kembali," ujar seorang pedagang perangkat perawatan pribadi di distrik bisnis Jomhouri, Teheran.
Pedagang tersebut mengaku harus memutar otak selama beberapa bulan terakhir dengan mendaftarkan pesanan baru di UEA lalu menyelundupkannya lewat penumpang yang datang dari Oman demi menjaga bisnisnya tetap hidup.
Baca Juga:
Kapal-Kapal Dilaporkan Sudah Lewati Selat Hormuz, Angkatan Laut Iran Ungkao Bahaya
Situasi pasar domestik kian dipersulit oleh adanya serangan siber masif pada Selasa yang melumpuhkan sistem perbankan nasional, hingga memaksa warga menggunakan uang tunai untuk membeli bensin dan bahan makanan di toko. Banyak pihak mencurigai Israel berada di balik gangguan digital tersebut karena merasa kecewa dengan draf damai yang diteken oleh Trump.
Rencana Aksi Protes dari Kelompok Garis Keras
Di sisi lain, gelombang ketidakpuasan meluas di kalangan pendukung setia Republik Islam Iran yang mendesak militer untuk membalas kematian Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di hari pertama perang. Kelompok garis keras ini menolak keras segala bentuk konsesi diplomasi dengan Washington dan meminta pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, untuk membatalkan seluruh agenda negosiasi.
Baca Juga:
Ghalibaf: Selat Hormuz Tak Akan Kembali ke Kondisi Sebelum Perang
Penolakan radikal tersebut bahkan disuarakan secara terbuka oleh pembawa acara televisi pemerintah, Mohsen Azadi, saat mengkritik kebijakan pelonggaran ekonomi dari gubernur bank sentral.
"Anda harus merasa dihina oleh hal ini. Ini bahkan belum genap empat bulan sejak pembunuhan Khamenei. Anda malah ingin membeli dari presiden keji yang baru saja mengatakan bahwa rakyat Iran kelaparan?" ketus Azadi dalam siaran langsungnya.
Lebih dari 50 anggota parlemen berhaluan keras yang marah terhadap draf damai ini berencana menggelar aksi demonstrasi massal pada hari Minggu untuk memprotes penutupan gedung parlemen. Kendati tensi politik internal memanas, pemerintah Iran tetap menegaskan bahwa mereka bernegosiasi dari posisi yang kuat dengan memegang teguh prinsip kesetaraan komitmen.