WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang protes nasional di Iran berubah menjadi tragedi kemanusiaan ketika laporan kelompok HAM menunjukkan ribuan nyawa melayang hanya dalam hitungan hari.
Kelompok Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 2.571 orang tewas sejak demonstrasi pecah pada Senin (28/12/2025) hingga Rabu (14/1/2025), angka yang melonjak tajam dan mengingatkan publik pada kekerasan massal era Revolusi 1979.
Baca Juga:
Protes Meluas di Iran, Krisis Ekonomi dan Pemutusan Internet Perburuk Situasi
Juru bicara HRANA kepada CNN mengonfirmasi, dari total korban tewas tersebut terdapat 12 orang yang masih berusia di bawah 18 tahun.
Selain korban jiwa, HRANA mencatat sedikitnya 18.137 orang telah ditangkap selama rangkaian aksi protes yang menyebar ke seluruh wilayah Iran.
Organisasi itu menegaskan, data yang mereka rilis bersumber dari kasus-kasus yang berhasil diidentifikasi secara langsung, meskipun hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.
Baca Juga:
Gelombang Demonstrasi Iran Dibalas Peluru Tajam, Korban Jiwa Terus Bertambah
HRANA juga memperingatkan bahwa pemadaman internet secara luas di Iran sangat membatasi arus informasi keluar negeri, sehingga angka korban yang sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Kondisi di lapangan diperkuat oleh verifikasi CBS News terhadap sebuah video yang memperlihatkan tumpukan jenazah di salah satu kamar jenazah di pinggiran Teheran.
Dalam rekaman tersebut tampak sedikitnya 366 jenazah, bahkan diperkirakan lebih dari 400, dengan luka tembak, bekas peluru senapan angin, hingga cedera berat lainnya.