“Pemutusan internet di Iran ibarat mengurung rakyat dalam sel isolasi,” ujar Mahmood Amiry-Moghaddam.
Hingga kini pemerintah Iran belum pernah merilis data resmi dan rutin mengenai jumlah korban tewas selama gelombang protes berlangsung.
Baca Juga:
Trump Klaim Seluruh Pemimpin Militer Iran Tewas, Sebut Mojtaba Khamenei "90 Persen Lenyap"
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintah mendengarkan keluhan para pedagang dan berjanji akan menyelesaikan persoalan ekonomi dengan segala cara yang dianggap perlu.
Dalam wawancara dengan media nasional yang berafiliasi dengan pemerintah, Pezeshkian menuding bahwa aksi kekerasan di lapangan dilakukan oleh oknum yang memiliki kaitan dengan kekuatan asing.
Reuters, mengutip pejabat anonim di Iran, melaporkan sekitar 2.000 orang tewas sejak unjuk rasa dimulai, sembari menyebut kekerasan dipicu oleh “teroris” yang dipengaruhi pihak luar.
Baca Juga:
Iran Sebut Lindsey Graham Sosok Jahat Usai Senator AS Itu Meninggal Dunia
Kepala kepolisian Iran juga mengklaim bahwa gelombang protes tersebut diperintahkan dan dikendalikan dari luar negeri.
Aksi unjuk rasa awalnya dipicu oleh lonjakan biaya hidup, namun dengan cepat berkembang menjadi gerakan nasional yang menjalar ke seluruh 31 provinsi di Iran.
Di pengasingan, Putra Mahkota Iran yang digulingkan, Reza Pahlavi, menyatakan rakyat Iran membutuhkan dukungan nyata dari komunitas internasional.