WAHANANEWS.CO - Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mendadak diserbu netizen Indonesia usai menyebut wayang kulit ikut membentuk budaya Melayu Singapura dalam unggahan media sosialnya.
Lawrence Wong mengunggah video saat dirinya memainkan wayang kulit tokoh Semar di Pusat Warisan Budaya Melayu, Singapura.
Baca Juga:
Prabowo: Uang yang Diselamatkan dari Korupsi Kini Dikembalikan ke Rakyat
Kehadiran Wong dalam video tersebut untuk ikut mempromosikan pertunjukan seni wayang kulit di negara itu.
"Temukan seni wayang kulit dan saksikan langsung di Pusat Warisan Budaya Melayu," demikian tulis Wong dalam caption unggahan video singkatnya.
"[Salah satu pameran terbaru di Pusat tersebut, mencerminkan bagaimana pengaruh dari seluruh nusantara telah menyatu untuk membentuk budaya Melayu Singapura kita]," lanjut Wong.
Baca Juga:
Kisah Pilu Arinjani, Dicari Semalaman hingga Ditemukan Jadi Korban Kecelakaan KA
Unggahan itu kemudian ramai dikomentari netizen, yang mayoritas berasal dari Indonesia.
Banyak warganet menjelaskan bahwa wayang kulit, terutama tokoh Semar, dikenal sebagai seni budaya yang berasal dari Indonesia, khususnya tradisi Jawa.
"Wayang Kulit berasal dari Indonesia khususnya Yogyakarta dan Surakarta karena ceritanya berasal dari Mahabarata dan Ramayana," tulis salah satu pemilik akun Instagram di kolom komentar akun Lawrence Wong.
Lakon-lakon dalam wayang kulit seperti Mahabarata dan Ramayana sendiri merupakan kisah yang berakar dari peradaban Hindu India dan kemudian diadaptasi serta dipadukan dengan budaya lokal di Nusantara.
Sejumlah netizen Indonesia juga menyampaikan kritik dengan nada halus agar tidak menimbulkan kesalahpahaman soal asal-usul wayang kulit.
"Perdana Menteri, Anda harus tahu bahwa saya adalah penggemar berat Anda. Saya mengagumi pemikiran Anda, kebijakan Anda, dan setiap kebijakan yang Anda ambil untuk Singapura. Sebagai penggemar Anda, saya ingin Anda tahu dan mungkin sedikit saran agar terhindar dari kemungkinan kesalahpahaman," demikian komentar salah satu netizen RI.
"Mungkin ada baiknya mempertimbangkan untuk mengubah nama dari 'Pusat Warisan Melayu' menjadi 'Pusat Warisan Nusantara', sehingga Anda dapat menyimpan Wayang kami dengan aman di sana. Dan tidak akan ada lagi protes dari kami. Terima kasih."
Perdebatan tersebut memicu diskusi luas di media sosial mengenai sejarah, warisan budaya, serta pengaruh lintas kawasan di Asia Tenggara.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]