Analis politik Gaza, Wissam Afifa, menilai tekanan tersebut sengaja memisahkan isu keamanan dari solusi politik yang lebih luas. "Perlawanan bersikeras bahwa pelucutan senjata harus terkait dengan pembentukan negara Palestina dan berakhirnya pendudukan," kata Afifa, seraya menambahkan bahwa bantuan kemanusiaan kini berubah menjadi alat tawar politik.
Sejumlah analis juga melihat ancaman perang sebagai bagian dari manuver politik domestik Israel. Pakar urusan Israel Mamoun Abu Amer menyebut eskalasi ini sebagai "kedok" untuk menekan mediator sekaligus memperkuat posisi Netanyahu menjelang pemilu.
Baca Juga:
Iran Tepis Tuduhan AS soal Plot Pembunuhan Dubes Israel: Upaya Pecah Hubungan
Namun di sisi lain, militer Israel juga menghadapi tekanan berat akibat konflik multi-front, termasuk di Lebanon selatan, yang membuat potensi pembukaan kembali perang besar di Gaza menjadi risiko strategis yang tidak kecil.
Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, warga Gaza tetap menjadi pihak yang paling terdampak. Data terbaru menunjukkan total korban tewas sejak perang dimulai telah mencapai sedikitnya 72.608 jiwa. Dengan serangan yang masih terjadi dan ancaman eskalasi terbuka, kawasan itu kini berada di ambang babak baru konflik yang berpotensi jauh lebih destruktif.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.