WAHANANEWS.CO, Jakarta - Setelah terkubur di dasar laut selama lebih dari 80 tahun, lokasi kapal selam legendaris Amerika Serikat USS Herring akhirnya berhasil dipastikan oleh para arkeolog bawah laut, mengungkap kembali salah satu kisah paling tragis dalam sejarah Perang Dunia II.
Naval History and Heritage Command Amerika Serikat mengonfirmasi bangkai kapal selam era Perang Dunia II tersebut ditemukan di dasar Samudra Pasifik, tepatnya di kawasan Kepulauan Kuril yang berada di antara Jepang dan Rusia.
Baca Juga:
Bisa Picu Perang Dunia III, Lithuania Desak NATO Tembak Jatuh Jet Rusia
Kapal yang tenggelam bersama seluruh 83 awaknya pada Juni 1944 itu ditemukan dalam kondisi yang masih relatif utuh meski menunjukkan bekas kerusakan akibat pertempuran sengit.
"Dinyatakan dalam pernyataan resmi Naval History and Heritage Command, bangkai kapal ini mewakili tempat peristirahatan terakhir para pelaut yang menyerahkan hidup mereka demi membela negara, dan harus dihormati oleh semua pihak sebagai makam perang."
USS Herring saat ini berada di kedalaman lebih dari 300 kaki atau sekitar 91 meter di bawah permukaan laut.
Baca Juga:
Peneliti Ungkap Perang Dunia 3 Sudah PecahTapi Tak Banyak yang Sadar
Posisinya ditemukan masih berdiri tegak di atas lunasnya di kawasan perairan sekitar Kepulauan Kuril yang hingga kini berada di bawah kendali Rusia.
Kapal selam tersebut mulai dibangun pada 1941 di Portsmouth, New Hampshire, dan resmi bertugas pada 1942 sebagai bagian dari armada Angkatan Laut Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.
Sepanjang masa tugasnya, USS Herring menjalankan delapan patroli perang yang membawanya beroperasi di Laut Mediterania, Atlantik Utara, hingga Samudra Pasifik.
Dalam catatan militer Amerika Serikat, kapal ini berhasil menenggelamkan sedikitnya tujuh kapal musuh selama bertugas.
Pada musim semi 1944, USS Herring memulai patroli perang kedelapannya menuju Kepulauan Kuril yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan Jepang.
Pada malam 31 Mei 1944, kapal tersebut sempat bertemu dengan kapal selam Amerika lainnya, USS Barb, untuk mengatur pembagian wilayah patroli sebelum melanjutkan operasi secara terpisah.
Petaka datang sehari kemudian saat USS Herring mendeteksi dua kapal dagang Jepang, Hiburi Maru dan Iwaki Maru, yang sedang berlabuh di sekitar Pulau Matsuwa.
Kapal selam Amerika itu kemudian melancarkan serangan torpedo dan berhasil menenggelamkan kedua kapal tersebut.
Keberhasilan tersebut ternyata memancing respons cepat pasukan Jepang yang mengoperasikan artileri pantai di kawasan tersebut.
Serangan balasan Jepang berhasil menghantam USS Herring sebanyak dua kali hingga menyebabkan kerusakan fatal.
"Dituliskan dalam dokumen sejarah kapal tersebut, gelembung-gelembung udara menutupi area seluas sekitar 5 meter, dan minyak berat menggenang di area seluas kurang lebih 15 mil."
Akibat kerusakan tersebut, USS Herring tenggelam ke dasar laut bersama seluruh awaknya yang berjumlah 83 orang.
Di antara korban yang gugur terdapat komandan kapal Letnan Komandan D. Zabriskie Jr.
Karena tidak pernah kembali ataupun memberikan laporan kepada pangkalan militer di Midway, USS Herring kemudian dinyatakan hilang dan dicoret dari Daftar Kapal Angkatan Laut Amerika Serikat.
Atas pengabdiannya selama perang, USS Herring dianugerahi sejumlah penghargaan militer bergengsi, yakni European-African-Middle Eastern Campaign Medal dengan dua bintang pertempuran, Asiatic-Pacific Campaign Medal dengan tiga bintang pertempuran, serta World War II Victory Medal.
Situasi geopolitik kawasan kemudian berubah drastis menjelang berakhirnya Perang Dunia II ketika Uni Soviet menginvasi Kepulauan Kuril dan mengambil alih kendali wilayah tersebut dari Jepang.
Upaya mengungkap keberadaan USS Herring sebenarnya telah dimulai sejak 2017 ketika tim ekspedisi Rusia menemukan bangkai kapal selam yang diduga kuat merupakan USS Herring.
Pada 2022, tim peneliti Rusia kembali ke lokasi untuk melakukan investigasi lanjutan sekaligus memberikan penghormatan kepada para awak kapal yang gugur.
Identitas kapal akhirnya berhasil dipastikan setelah dua peneliti sukarelawan asal Amerika Serikat dan seorang peneliti Jepang melakukan analisis mendalam terhadap data yang dikumpulkan pihak Rusia.
Hasil penelitian tersebut kemudian diterima dan disahkan oleh Naval History and Heritage Command Amerika Serikat.
"Ditegaskan Direktur Naval History and Heritage Command Samuel J. Cox, penemuan Herring adalah pengingat kuat bahwa kita memiliki kewajiban kepada para pelaut dan Marinir yang memberikan hidup mereka demi melayani bangsa kita."
Menurut Cox, keberhasilan mengidentifikasi USS Herring juga menunjukkan pentingnya kerja sama internasional dalam mengungkap fakta-fakta sejarah yang telah lama hilang.
"Ini juga merupakan bukti dari nilai kolaborasi internasional dalam mengungkap dan melestarikan kebenaran dari sejarah bersama kita," ujarnya.
Penemuan USS Herring menambah daftar panjang keberhasilan pencarian kapal perang dan kapal selam yang hilang selama Perang Dunia II dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, Angkatan Laut Amerika Serikat juga berhasil menemukan USS Harder di Laut China Selatan dekat Pulau Luzon, Filipina.
Kapal selam yang tenggelam pada Agustus 1944 tersebut dikenal luas dengan julukan legendaris "Hit 'em HARDER".
Sementara itu pada 2023, para peneliti menemukan bagian haluan USS New Orleans yang terkenal karena tetap mampu berlayar setelah bagian depannya hancur akibat serangan torpedo Jepang.
Di tahun yang sama, bangkai kapal perusak Jepang Teruzuki yang tenggelam pada 1942 di sekitar Kepulauan Solomon juga berhasil diidentifikasi.
Bagi Samuel J. Cox, setiap penemuan kapal perang yang tenggelam bukan sekadar pencapaian arkeologi bawah laut.
"Disampaikan Cox, ini adalah kesempatan besar untuk mengingat keberanian dan pengorbanan para pelaut yang bertempur dengan kegigihan dan keahlian yang luar biasa, di kedua belah pihak."
Menurutnya, para pelaut yang terlibat dalam perang hanyalah menjalankan tugas yang diberikan oleh negara mereka.
"Pelaut tidak memulai perang, tetapi mereka melakukan apa yang diminta oleh pemerintah mereka," pungkasnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]