WAHANANEWS.CO, Jakarta - Donald Trump kembali memperlihatkan gaya komunikasi asal bunyi yang membuat komentarnya soal perang Iran, inflasi, harga minyak, hingga kondisi ekonomi warga Amerika Serikat berubah menjadi kontroversi politik.
Presiden Amerika Serikat itu dalam beberapa kesempatan melontarkan pernyataan spontan yang dinilai tidak peka terhadap situasi serius yang sedang dihadapi negaranya.
Baca Juga:
Ini Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026
Dalam kurun sekitar 24 jam, Trump membuat dua komentar yang langsung menyulut kritik.
Pada Selasa (7/6/2026) pagi, Trump meremehkan insiden jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS yang ditembak jatuh Iran saat gencatan senjata berlangsung.
Kepada Wall Street Journal, Trump menyebut insiden tersebut bukan persoalan besar.
Baca Juga:
AS Cairkan Aset Iran Rp102 Triliun, Sinyal Keras Menuju Kesepakatan Baru
Sehari kemudian, saat inflasi AS melonjak menembus 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Trump kembali mengeluarkan komentar yang dianggap asal bunyi.
"Saya menyukainya. Saya suka inflasi," kata Trump ketika ditanya mengenai data inflasi terbaru.
Komentar itu membuat kritik terhadap Trump semakin menguat karena warga Amerika justru sedang menghadapi tekanan harga kebutuhan sehari-hari.
Rangkaian ucapan Trump tersebut dinilai memperlihatkan pola lama, yakni merespons isu besar dengan pernyataan pendek, mengejutkan, dan kerap bertolak belakang dengan keresahan publik.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali dituding tidak menjawab kegelisahan masyarakat dengan empati, tetapi dengan kalimat-kalimat yang terkesan meremehkan masalah.
Salah satu contoh paling disorot muncul setelah laporan pertama mengenai tiga tentara AS yang tewas dalam konflik Iran.
Saat berbicara kepada NBC News, Trump memasukkan kematian tentara AS ke dalam perhitungan untung rugi perang.
"Kami kehilangan tiga orang, tetapi kami memang memperkirakan akan ada korban. Namun pada akhirnya ini akan menjadi kesepakatan yang hebat bagi dunia," ujarnya.
Pernyataan itu memicu kecaman dari Partai Demokrat karena Trump dianggap gagal menunjukkan rasa hormat kepada keluarga korban.
Trump kemudian kembali membuat pernyataan yang dianggap dingin ketika memperkirakan kemungkinan adanya korban tambahan.
"Memang begitulah adanya," kata Trump.
Ucapan tersebut memperkuat kesan bahwa Trump kerap mengubah tragedi menjadi bahan komentar spontan tanpa mempertimbangkan dampak emosionalnya.
Dalam isu harga minyak, Trump juga menunjukkan pola komunikasi serupa dengan menyebut kenaikan harga minyak dapat menguntungkan Amerika Serikat.
Menurut Trump, posisi AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia membuat kenaikan harga minyak tidak perlu dilihat sebagai kabar buruk.
"Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh di atas negara lain, jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang," tulis Trump di media sosial pada Maret 2026.
Pernyataan itu menuai kritik karena mayoritas warga Amerika bukan pekerja sektor minyak dan justru merasakan dampak kenaikan harga energi.
Bagi banyak rumah tangga, harga minyak yang naik berarti biaya bensin, transportasi, dan kebutuhan harian ikut membengkak.
Trump juga pernah memicu polemik saat membahas dampak tarif impor terhadap konsumen Amerika.
Pada April 2025, ia mengatakan keluarga Amerika bisa mengurangi pembelian barang untuk anak-anak mereka.
"Mungkin anak-anak akan punya dua boneka, bukan 30 boneka," katanya.
Komentar tersebut dianggap menyederhanakan beban keluarga yang harus menghadapi kenaikan harga barang konsumsi.
Trump lalu membuat pernyataan lain mengenai alat tulis anak-anak.
"Anda tahu, Anda bisa mengurangi produk tertentu. Anda bisa mengurangi pensil, karena di bawah kebijakan China, setiap anak bisa mendapatkan 37 pensil. Mereka hanya membutuhkan satu atau dua saja," ujarnya.
Kalimat itu kembali menunjukkan gaya Trump yang cenderung menjawab persoalan ekonomi rumah tangga dengan perumpamaan yang provokatif.
Alih-alih menenangkan publik, komentar seperti itu justru membuat banyak pihak menilai Trump tidak memahami tekanan yang dirasakan keluarga kelas pekerja dan menengah.
Sorotan serupa muncul ketika Trump menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Januari 2026.
Di hadapan para CEO, Trump membanggakan keberhasilan kebijakannya dalam menciptakan keuntungan bagi kalangan bisnis.
"Saya bahkan tidak lagi bertanya bagaimana keadaan Anda sekarang. Rasanya semua orang menghasilkan begitu banyak uang," kata Trump kepada para CEO yang hadir.
Pernyataan itu dinilai kontras dengan citra populis Trump yang selama ini mengaku sebagai pembela kelas pekerja.
Ketika warga biasa mengeluhkan harga kebutuhan hidup, Trump justru terdengar lebih nyaman berbicara tentang keuntungan kalangan bisnis.
Dalam isu Iran, gaya asal bunyi Trump kembali terlihat setelah Teheran meluncurkan serangan ke pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan bandara Kuwait pada pekan sebelumnya.
Trump menyebut serangan itu bukan masalah besar dan menggambarkannya sebagai pembalasan yang dapat dimengerti.
Ucapan tersebut dipertanyakan karena ketegangan antara Washington dan Teheran saat itu masih sangat tinggi.
Pada bulan sebelumnya, Trump juga meremehkan dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap masyarakat.
"Ini hanya recehan," katanya kepada wartawan.
Trump mengatakan ia menghargai warga yang bersedia menanggung kenaikan harga untuk sementara waktu.
"Saya menghargai semua orang yang bersedia menanggungnya untuk sementara waktu. Tidak akan berlangsung lama," ujarnya.
Padahal survei Reuters/Ipsos menunjukkan hampir dua pertiga warga Amerika mengaku kenaikan harga BBM telah memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga mereka setidaknya dalam tingkat tertentu.
Isu keterjangkauan biaya hidup juga pernah disebut Trump sebagai tipuan sepanjang tahun sebelumnya.
"Ini adalah penipuan. Saya pikir keterjangkauan adalah penipuan terbesar," katanya dalam salah satu kesempatan.
Pernyataan tersebut membingungkan banyak pihak karena selama kampanye Pilpres 2024, Trump justru menjanjikan penurunan biaya hidup sebagai salah satu agenda utama.
Bagi para pengkritiknya, kontradiksi semacam ini menunjukkan bahwa Trump sering berbicara mengikuti momentum politik, bukan berdasarkan konsistensi pesan.
Sejumlah survei menunjukkan mayoritas warga AS percaya keterjangkauan biaya hidup merupakan masalah nyata.
Publik juga menilai pemerintah belum memberi perhatian cukup terhadap tekanan harga yang dialami rumah tangga.
Komentar terbaru Trump mengenai inflasi diperkirakan akan terus menjadi bahan kritik menjelang pemilu sela AS 2026.
Saat ditanya mengenai lonjakan inflasi hingga 4,2 persen yang sebagian dipicu kenaikan biaya energi akibat perang Iran, Trump justru menyebut data itu positif.
"Angkanya sangat bagus," kata Trump.
Trump kemudian melanjutkan komentarnya dengan kalimat yang membuat kritik terhadap gaya asal bicaranya kembali meledak.
"Saya menyukainya. Saya suka inflasi," ujar Trump.
Trump diduga berupaya menyampaikan bahwa tekanan harga akan mereda setelah konflik berakhir.
Namun, cara penyampaiannya membuat publik menangkap pesan berbeda, yakni seorang presiden terdengar menyukai inflasi ketika rakyatnya harus membayar lebih mahal untuk kebutuhan harian.
Dari berbagai komentar kontroversial itu, salah satu yang paling banyak menuai kecaman adalah pernyataan Trump mengenai kondisi keuangan warga Amerika.
Ketika ditanya apakah dampak ekonomi perang Iran memengaruhi upayanya mendorong perdamaian, Trump menjawab bahwa hal tersebut sama sekali bukan pertimbangannya.
"Tidak sedikit pun," katanya.
Trump mengatakan satu-satunya hal yang menjadi fokusnya dalam isu Iran adalah mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir.
"Satu-satunya hal yang penting ketika saya berbicara tentang Iran adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Pernyataan itu kemudian disusul kalimat yang dinilai menjadi contoh paling gamblang dari gaya komunikasi Trump yang asal bunyi.
"Saya tidak memikirkan kondisi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun. Saya hanya memikirkan satu hal: kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja," kata Trump.
Kalimat tersebut langsung memicu kecaman karena Trump terdengar menyingkirkan keresahan ekonomi warga Amerika dari pertimbangan politik luar negerinya.
Bagi para pengkritik, masalah terbesar Trump bukan hanya isi kebijakannya, tetapi kebiasaannya melontarkan pernyataan yang terlalu spontan saat menghadapi isu sensitif.
Gaya komunikasi asal bunyi itu membuat setiap isu besar, mulai dari perang, korban jiwa, inflasi, BBM, tarif impor, hingga biaya hidup, mudah berubah menjadi kontroversi baru.
Menjelang pemilu sela AS 2026, kebiasaan Trump berbicara tanpa rem diperkirakan akan terus menjadi amunisi politik bagi lawan-lawannya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]