WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung hingga saat ini memberikan efek domino bagi sejumlah industri. Tak hanya menghambat distribusi minyak, tapi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tersebut juga mengganggu distribusi pupuk melalui Selat Hormuz yang dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga pangan dunia.
Chief Executive Officer Fertiglobe, Ahmed El-Hoshy, memperingatkan bahwa pemerintah di berbagai negara perlu segera mengambil langkah untuk memastikan arus perdagangan pupuk tetap berjalan. Sebab, konflik di Timur Tengah akan memicu lonjakan harga biji-bijian dan memperparah kelaparan di kalangan masyarakat miskin dunia.
Baca Juga:
RI Sukses Ekspor Pupuk ke Australia, Bidik Negara-Negara Ini
Selain itu, dukungan finansial kepada petani juga dinilai penting agar mereka tetap mampu membeli pupuk di tengah kenaikan harga yang tajam.
Fertiglobe, produsen pupuk yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Adnoc, memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku utama produksi pupuk. Sejak konflik memanas di kawasan Teluk, harga pupuk nitrogen seperti amonia dan urea mengalami kenaikan signifikan. Kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan dari Timur Tengah serta melonjaknya harga gas dunia akibat gangguan pada infrastruktur energi di kawasan tersebut.
El-Hoshy mencatat, sekitar 30% ekspor urea dari wilayah Teluk saat ini tidak dapat dikirim keluar kawasan. Meskipun Fertiglobe telah mengalihkan sebagian distribusi melalui jalur darat menuju pelabuhan alternatif, kapasitas tersebut belum cukup untuk menutupi hambatan yang muncul akibat terbatasnya akses melalui Selat Hormuz.
Baca Juga:
Wamentan Silaturahmi ke Solo Ketemu Jokowi, Lapor Petani Sekarang Happy
Namun, Fertiglobe terus memproduksi pupuk di fasilitas di Abu Dhabi dan menyimpannya di berbagai lokasi. Perusahaan ini juga memiliki fasilitas produksi besar di luar Selat yang tetap beroperasi.
"Kegagalan dalam menggerakkan pasokan pupuk atau memberikan dukungan finansial berisiko memperburuk kekurangan pangan dan memicu kenaikan harga biji-bijian yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk turun," kata El-Hoshy mengutip Wall Street Journal, Minggu (13/6/2026) melansir CNBC Indonesia.
Menurutnya, produk pupuk memiliki peran yang sangat vital dalam sistem pangan global. El-Hoshy memperkirakan bahwa sekitar separuh kebutuhan kalori bagi lebih dari 8 miliar penduduk dunia bergantung pada penggunaan pupuk. Ketika harga pupuk meningkat dan pasokan terbatas, petani cenderung mengurangi penggunaannya, yang pada akhirnya dapat menekan produktivitas pertanian.