WAHANANEWS.CO, Jakarta - Retak hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu kini disebut bisa menjalar ke medan perang Lebanon, setelah intelijen Amerika Serikat memperingatkan Gedung Putih bahwa Israel masih berupaya menggagalkan kesepakatan damai AS-Iran.
Badan intelijen Amerika Serikat dilaporkan telah memberi peringatan kepada pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum berhenti mendorong langkah yang dapat merusak kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Baca Juga:
Prancis Membara, 35 Wilayah Siaga Merah dan Suhu Tembus 41 Derajat Celsius
The Washington Post pada Jumat (19/6/2026) melaporkan bahwa Israel tampaknya tetap bertekad melanjutkan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Seorang pejabat AS menyebut keputusan Israel untuk tidak menarik pasukannya dari Lebanon selatan dapat menghancurkan kesepakatan yang masih sangat rapuh, meski tidak terjadi eskalasi besar.
“Terus menduduki sebagian wilayah Lebanon adalah resep menuju bencana,” ujar pejabat AS tersebut seperti dikutip Anadolu.
Baca Juga:
MK Soroti Kuota Internet Hangus, Operator Seluler Harus Buktikan Komitmen Rollover
Pejabat itu menilai situasi di Lebanon selatan dapat kembali meledak bila Israel tidak menarik seluruh pasukannya dari wilayah tersebut.
“Tanpa penarikan penuh pasukan Israel, kemungkinan dimulainya kembali permusuhan antara militer Israel dan Hizbullah hampir pasti terjadi,” kata pejabat itu.
Israel sebelumnya berdalih bahwa operasi militernya di Lebanon ditujukan untuk menghadapi Hizbullah.
Namun, keberadaan pasukan Israel di selatan Lebanon justru menjadi salah satu ganjalan utama dalam upaya menjaga kesepakatan antara AS dan Iran.
Dalam laporan tersebut, Israel disebut memandang kesepakatan Trump dengan Iran dapat membatasi ruang geraknya untuk menekan Hizbullah.
Tel Aviv juga khawatir kesepakatan itu dapat memperkuat posisi Iran yang selama ini menjadi musuh utamanya di kawasan.
Ketegangan antara pemerintahan Trump dan Netanyahu semakin terbuka setelah sejumlah pejabat AS mulai memberi peringatan keras kepada Israel.
Wakil Presiden AS JD Vance pada Kamis (18/6/2026) memperingatkan Israel agar tidak menjauh dari sekutu terkuatnya.
“Dia adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada negara Israel pada saat ini,” kata Vance.
Pernyataan Vance itu merujuk kepada Trump yang disebutnya masih menjadi pemimpin dunia paling bersimpati kepada Israel.
Di sisi lain, Trump tetap mengaku memiliki hubungan baik dengan Netanyahu, meski beberapa kali melontarkan kritik terhadap cara Israel menjalankan perang.
“Bibi Netanyahu bekerja dengan baik bersama saya, tetapi dia akan memberi tahu Anda, kami yang memiliki senjata, kami yang memiliki seluruh kesepakatan, kami yang memiliki pesawat pengebom B-2, dan sebagainya,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios.
Trump kemudian mengklaim bahwa dukungan dirinya menjadi faktor penting bagi keselamatan Israel.
“Jika bukan karena Donald Trump, Israel akan sudah dihancurkan,” ujar Trump.
Trump juga sempat mengkritik serangan Israel di Lebanon ketika mengumumkan kesepakatan damai dengan Teheran dalam pertemuan G7.
“Sudah terlalu banyak orang yang terbunuh,” kata Trump.
Ia menilai Israel tidak perlu memakai pendekatan destruktif dalam setiap operasi yang diklaim menargetkan anggota Hizbullah.
“Anda tidak perlu merobohkan sebuah gedung apartemen setiap kali Anda mencari seseorang, karena ada banyak orang di gedung apartemen itu, dan tidak semuanya adalah Hizbullah,” ujar Trump.
Di tengah friksi tersebut, Israel dan Hizbullah tetap saling serang meski ada kesepakatan sementara selama 60 hari yang memuat penghentian penuh operasi militer Israel di Lebanon.
Badan Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa pesawat tempur dan drone Israel menyerang sejumlah titik di wilayah selatan Lebanon serta Lembah Bekaa.
Seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa Hizbullah telah meluncurkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan pada malam sebelumnya.
Israel kemudian membalas serangan tersebut dengan menggempur lokasi yang disebut sebagai target Hizbullah.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan Hizbullah merupakan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Secara terpisah, seorang pejabat AS mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat (19/6/2026) pukul 16.00 waktu setempat.
Namun, sebelum gencatan senjata berlaku, Badan Berita Nasional Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan sejumlah lainnya terluka akibat serangan Israel di wilayah selatan dan timur Lebanon.
Data resmi terbaru menyebut operasi militer Israel di Lebanon yang dimulai pada 2 Maret telah menewaskan 3.912 orang.
Serangan tersebut juga melukai 11.873 orang dan membuat lebih dari satu juta warga mengungsi.
Kesepakatan sementara antara Trump dan Iran ditandatangani dalam KTT G7 di Pegunungan Alpen, Perancis.
Kesepakatan itu mencakup sejumlah langkah, termasuk penghentian blokade laut oleh AS dan pembukaan kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz.
Namun, kesepakatan tersebut menuai penolakan dari sejumlah kelompok pendukung Trump yang bersikap keras terhadap Iran.
Penolakan juga datang dari kalangan sayap kanan Israel yang menilai kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan Teheran.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mengecam kesepakatan itu dengan pernyataan keras.
“Untuk setiap air mata satu orang ibu Israel, seribu ibu di Lebanon harus menangis,” kata Ben Gvir.
Ia bahkan menyerukan pendekatan perang yang lebih brutal terhadap Lebanon.
“Seluruh Lebanon harus terbakar!” ujar Ben Gvir.
Ben Gvir menilai Israel tidak akan menang di Timur Tengah bila memakai respons yang terukur.
“Di Timur Tengah, Anda tidak menang dengan respons yang terukur dan menahan diri, Anda harus menjadi gila,” kata Ben Gvir.
Ia kemudian menyerukan penghancuran total dalam operasi militer Israel.
“Menghancurkan semuanya,” ujarnya.
Meski perang masih mendapat dukungan dari sebagian pemilih Israel, survei Pew Research Center menunjukkan 60 persen warga Amerika memiliki pandangan tidak baik terhadap Israel setelah kebijakan Netanyahu di Gaza serta perang di Iran dan Lebanon.
Vance sebelumnya juga memperingatkan Israel agar tidak menyerang Trump atas kesepakatan yang dibuat dengan Iran.
“Dalam tiga bulan terakhir, dua pertiga senjata pertahanan yang telah melindungi tanah air Anda dibuat oleh tangan Amerika dan dibayar oleh uang pajak Amerika,” kata Vance.
Ia meminta Israel membaca ulang posisi strategisnya di tengah ketergantungan besar terhadap dukungan Amerika Serikat.
“Masalah bagi Israel bukanlah Donald J Trump,” ujar Vance.
Vance menilai pihak-pihak di Israel yang menganggap Trump sebagai masalah justru gagal memahami situasi yang sedang dihadapi negaranya.
“Dan siapa pun di Israel yang berpikir masalah terbesar mereka adalah Presiden Amerika Serikat harus bangun dan melihat kenyataan situasi yang sedang dihadapi negara itu,” kata Vance.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]