Venezuela bereaksi keras atas tindakan Amerika Serikat, namun Washington tetap melanjutkan tekanan dengan mengerahkan pasukan serta persenjataan ke wilayah dekat perbatasan Venezuela.
Menghadapi situasi tersebut, Venezuela menyatakan tidak gentar dan memastikan militernya berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Baca Juga:
Ngeri! Dua Jet Tempur AS Tabrakan di Udara, Empat Pilot Lolos dari Maut
Di tengah eskalasi ketegangan, Maduro berulang kali menegaskan bahwa langkah Amerika Serikat bukan bertujuan memberantas narkoba, melainkan untuk menjatuhkan pemerintahannya.
Belakangan, Maduro juga mengungkap motif lain di balik tekanan Washington, yakni keinginan membentuk pemerintahan boneka sekaligus menguasai sumber daya alam Venezuela.
Menurut Maduro, upaya itu dilakukan dengan cara memblokade total sektor minyak yang menjadi tulang punggung ekonomi negaranya.
Baca Juga:
Obama Bangga Kesepakatan Nuklir Iran 2015 Tak Picu Pertumpahan Darah
Venezuela juga memperoleh dukungan dari Rusia yang menyatakan tengah memantau secara ketat perkembangan ketegangan antara Trump dan Maduro.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengingatkan Amerika Serikat agar tidak memperburuk situasi.
"Semoga pemerintahan Trump, yang dikenal karena mengejar kebijakan rasional dan praktis, akan berhenti sebelum melakukan kesalahan fatal dan menahan diri meningkatkan ketegangan ke arah yang bisa menyebabkan konsekuensi tak terduga bagi seluruh Belahan Barat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.